Kematian, Takdir, dan Kepastian Ilahi: Renungan bagi Para Penguasa Zalim

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:51 WIB
Kematian, Takdir, dan Kepastian Ilahi: Renungan bagi Para Penguasa Zalim

Dalam kehidupan, ada hal yang bisa diusahakan dan ada yang mutlak menjadi ketetapan Tuhan. Kematian, kelahiran, jodoh, dan rezeki termasuk dalam kategori takdir yang tidak bisa ditolak atau dihindari. Teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu memprediksi kapan dan di mana ajal menjemput. Seseorang yang divonis sakit keras bisa bertahan hidup, sementara yang tampak sehat bisa meninggal mendadak.

Para pemimpin yang menindas, seperti di Amerika Serikat dan Israel, sebaiknya tidak merasa aman. Malaikat maut dan azab kubur siap menjemput mereka, meskipun mereka bersembunyi di dalam bunker paling aman sekalipun. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur'an: "Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh." (Q.S. An-Nisa' [4]: 78). Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa tidak ada satu pun tempat persembunyian yang mampu melindungi dari maut.

Orang-orang yang gemar berbuat jahat sering kali takut mati dan berusaha sekuat tenaga memperpanjang usia. Padahal, batas umur manusia modern sangat terbatas. Allah berfirman: "Dan sungguh, engkau akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling tamak terhadap kehidupan, bahkan lebih tamak daripada orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari azab." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96). Ketakutan ini tidak akan mengubah takdir yang telah ditetapkan.

Kisah Firaun menjadi pelajaran abadi. Ketika tenggelam, ia baru beriman, tetapi penyesalan di ujung maut tidak lagi diterima. Allah menyelamatkan jasadnya sebagai tanda bagi generasi setelahnya: "Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu." (Q.S. Yunus [10]: 92). Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan kezaliman tidak akan mampu menunda kematian.

Keteguhan dan Demoralisasi

Seorang Muslim sejati senantiasa siap menghadapi kematian. Pasukan Hamas, misalnya, memiliki doktrin keteguhan: hidup mulia atau mati syahid. Mereka tidak gentar menghadapi musuh yang bersenjata lengkap. Sebaliknya, tentara zionis justru dilanda demoralisasi, ketakutan, dan depresi meskipun memiliki persenjataan canggih. Propaganda manipulatif kerap dilancarkan untuk mencitrakan pejuang Islam sebagai teroris, tetapi kebenaran tetap bersinar.

Sikap permusuhan Ahli Kitab yang dengki dijelaskan dalam Al-Qur'an. Mereka tidak akan rela kepada umat Islam sebelum mengikuti agama mereka. Allah berfirman: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 120). Kedengkian ini berasal dari penyakit hati, sebagaimana kisah Habil dan Qabil, serta sifat Iblis yang menuntut pengultusan.

Peradaban Barat saat ini berada dalam fase kejatuhan nilai moral karena tidak memiliki pegangan kitab suci yang autentik. Mereka kehilangan arah dan tenggelam dalam kerusakan. Umat Islam justru memiliki pedoman yang jelas, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Takdir dan Syukur

Takdir kelahiran membentuk keragaman fisik dan lokasi hidup manusia di bumi. Setiap Muslim dituntut untuk bersyukur dan menerima takdir dengan ikhlas. Rasulullah saw. mengajarkan agar kita melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, bukan yang di atas. Beliau bersabda: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi yang bersyukur: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih." (Q.S. Ibrahim [14]: 7). Nikmat Allah tidak akan mampu dihitung oleh manusia, sebagaimana firman-Nya: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (Q.S. Ibrahim [14]: 34).

Jodoh juga merupakan bagian dari takdir. Islam melarang pergaulan bebas untuk menjaga kehormatan. Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya." (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, beliau menegaskan bahwa yang ketiga di antara mereka adalah setan. Oleh karena itu, dalam memilih pasangan, seorang Muslim dianjurkan melakukan salat istikharah untuk memohon petunjuk Allah.

Rezeki dan Keadilan Global

Rezeki sepenuhnya di tangan Allah. Kerja keras manusia tidak otomatis menentukan jumlah materi yang diperoleh. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (Q.S. Az-Zariyat [51]: 58). Tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya (Q.S. Hud [11]: 6). Bahkan, makhluk yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri pun tetap diberi rezeki oleh Allah (Q.S. Al-'Ankabut [29]: 60).

Kegagalan sistem internasional seperti PBB dalam menegakkan keadilan distribusi kekayaan menjadi bukti bahwa institusi buatan manusia tidak mampu menyelesaikan masalah global. Dibutuhkan kepemimpinan global Islam, yaitu khilafah yang mengikuti manhaj nubuwwah. Rasulullah saw. mengabarkan bahwa setelah masa kerajaan yang memaksa, akan datang kembali khilafah yang sesuai dengan petunjuk kenabian. Ini adalah janji Allah yang pasti terwujud.

Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur dan istiqamah di jalan-Nya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags