Sejumlah siswa SMP Negeri 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, memilih patungan menggunakan uang kas kelas untuk memperbaiki ruang belajar mereka yang rusak. Kerusakan terlihat di berbagai bagian, mulai dari tembok, papan tulis, kaca jendela, plafon, hingga lampu penerangan.
Seorang siswi kelas VIII yang enggan disebutkan namanya, R, menuturkan bahwa perbaikan tembok dilakukan secara mandiri oleh para siswa pada akhir pekan lalu. Mereka membeli semen dan pasir dari uang kas kelas, dengan total pengeluaran lebih dari Rp100 ribu. Pengerjaan dan pengecatan juga dilakukan sendiri oleh siswa.
Menurut R, kerusakan tersebut bukan hal baru. Sejak pertama kali masuk sekolah, sejumlah fasilitas sudah dalam kondisi memprihatinkan. "Sudah lama rusak, waktu awal masuk ke sini juga sudah banyak yang ngelupas. Terus papan tulis juga jebol dari awal masuk," ujarnya.
Selain tembok dan papan tulis, penerangan ruang kelas juga menjadi keluhan. Beberapa lampu tidak berfungsi, membuat suasana belajar pada pagi hari terasa gelap. "Lampu juga tidak ada, tiap pagi gelap," kata R.
Keluhan serupa disampaikan siswa lain, M. Ia berharap fasilitas sekolah segera mendapat perhatian agar siswa tidak perlu lagi melakukan perbaikan secara mandiri. "Sudah bilang beberapa kali minta dibenerin, tapi belum dibenerin juga. Kalau diperbaiki mah jadi bagus biar belajarnya nyaman. Kalau gini mah nggak konsentrasi," tutur M.
Penjelasan Disdik
Kepala Seksi Kelembagaan, Sarana, dan Prasarana SMP Dinas Pendidikan KBB, Acon Supriatna, membenarkan kondisi kerusakan fasilitas di SMPN 2 Ngamprah. Pihaknya telah mengusulkan rehabilitasi untuk 29 ruang kelas di sekolah tersebut. Usulan itu diajukan sejak 2025 untuk memperoleh bantuan perbaikan pada 2026.
"Soal bangunan SMP 2 ini memang kondisinya seperti ini. Ada 29 ruang kelas yang diusulkan untuk dilakukan perbaikan," kata Acon. Ia menambahkan, usulan tersebut telah ditindaklanjuti dengan survei langsung oleh tim kementerian bersama pihak sekolah.
"Ini tahun 2025 sudah diusulkan untuk mendapatkan bantuan di 2026. Bahkan sudah disurvei juga oleh tim kementerian bersama kepala sekolah," ujarnya. Namun, realisasi perbaikan masih menunggu program dari pemerintah pusat. Acon berharap rehabilitasi ruang-ruang kelas tersebut dapat dilakukan pada 2027. "Ada sekitar 29 ruang yang diusulkan, mudah-mudahan tahun 2027 ada perbaikan dari pusat," katanya.