Nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang berlaku selama 60 hari telah resmi berakhir. Sepanjang periode tersebut, AS disebut gagal memenuhi satu pun dari 14 poin kesepakatan, sementara Iran justru berhasil mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan menggagalkan upaya Presiden Donald Trump untuk memicu perang.
Analis menilai Iran kini telah melucuti kekuatan AS di kawasan. Kerusakan yang dialami pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah bersifat permanen, dan kendali Washington atas kawasan tersebut tidak dapat dipulihkan seperti sedia kala. Kemampuan intelijen AS dan Israel juga disebut lumpuh, sehingga keduanya tidak lagi mampu mengendalikan seluruh wilayah.
Di tengah situasi ini, Israel disebut berada dalam posisi yang sangat lemah tanpa pasokan senjata dari Amerika. Prediksi bahwa Trump hanya bisa menaklukkan Iran dengan bom nuklir dan itupun belum tentu berhasil kembali terbukti oleh tindakan AS sendiri. Jika serangan nuklir dilancarkan, dampaknya justru akan menghancurkan Israel dan memicu konflik politik besar di dalam negeri AS.
Serangan nuklir ke Iran juga akan memancing keterlibatan China, Rusia, dan Korea Utara. Karena itu, analis menyarankan Trump untuk tidak mempertimbangkan opsi tersebut sama sekali.
Di dalam negeri Iran, sedang terjadi transformasi kekuasaan yang mendalam. Proses ini digambarkan sebagai konsolidasi sistem pemerintahan yang kompleks, penguatan kekuasaan Mojtaba Khamenei, serta pengetatan barisan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam kepatuhan penuh kepada Ayatollah. Iran terus berada dalam status siaga tinggi.
Sementara itu, kondisi awak kapal induk Abraham Lincoln dilaporkan memprihatinkan. Mereka berada di ambang batas kemampuan bertahan hidup dan kewarasan. Penderitaan, kelaparan, gangguan mental, dan upaya bunuh diri dalam skala besar disebut belum pernah terjadi sebelumnya di atas simbol hegemoni Amerika tersebut. Data desersi memang belum ada, namun diperkirakan akan segera terjadi.
Status militer AS secara keseluruhan dinilai kritis akibat tiga faktor utama: kekurangan senjata secara strategis maupun fisik, buruknya kondisi faktor manusia dengan lemahnya motivasi dan semangat militer, serta kerugian militer yang diakibatkan oleh Iran dan Rusia.