Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) menyisakan duka mendalam. Di tengah kepanikan, seorang nenek di Kabupaten Manggarai Timur berjuang menyelamatkan cucunya yang masih balita dari reruntuhan rumah.
Katarina Dadona, warga Gongger, Kecamatan Lambaleda Utara, tengah bersama cucunya, Karolin Selomita (3), saat gempa terjadi. Karolin sedang kurang sehat dan rewel sejak malam. Menjelang subuh, Katarina sempat mencoba memberinya makan, tetapi sang cucu menolak dan kembali tidur sambil menonton ponsel.
“Pas jam 5 subuh, guncang sudah,” kata Katarina saat ditemui di pengungsian Kecamatan Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, NTT, Minggu (16/8).
Saat guncangan terasa keras, Katarina langsung menggendong Karolin dan berusaha keluar rumah. Namun, pintu terkunci dan sulit dibuka. Beruntung, anak Katarina yang lain mendobrak jendela sehingga mereka bisa keluar.
“Langsung saya bawa gendong cucu saya ini mau keluar. Mau buka pintu, pintunya tidak terbuka, terkunci masih. Langsung kami dobrak, ini bapaknya dobrak jendela. Mereka keluar duluan, kami dari belakang,” tuturnya.
Tembok Runtuh, Nenek Melindungi Cucu
Ketika hendak menyusul, tembok bagian depan rumah tiba-tiba runtuh. Katarina berusaha melindungi Karolin dengan tubuhnya. Ia memeluk cucunya erat saat puing-puing berjatuhan.
“Akhirnya tembok ini ketindih sama aku. Luka semua, kepala sama bagian belakang. Cucu saya di bawah pelukan. Mungkin pecahan batu melenting ke kepalanya. Saya yang peluk dia, tertahan dengan tembok,” katanya.
Karolin mengalami luka di dahi yang cukup parah hingga harus dijahit empat kali. Selain itu, ada luka di pelipis matanya akibat serpihan bangunan.
Penyelamatan dan Evakuasi
Anak Katarina yang lain berhasil mendorong tembok yang menimpa mereka, sehingga keduanya bisa keluar melalui jendela. Mereka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pratama. Namun, karena gempa susulan kembali terjadi, mereka dibawa pulang dan akhirnya diungsikan oleh seorang anggota TNI ke posko pengungsian.
“Sampai di sana karena guncangannya keras lagi, kami tidak bisa rawat di sana. Langsung kami bawa pulang ke rumah. Sampai di rumah, ada pak tentara yang kunjung kami, langsung bawa ke sini,” ucapnya.
Rumah Rata dengan Tanah
Rumah Katarina di Gongger kini rata dengan tanah. Selama tiga hari di pengungsian, mereka sempat tidur di tenda terbuka, membuat Karolin masih merasakan sakit di kepalanya.
“Ngeluhnya perih kepalanya. Masih perih. Kena angin flu. Kami tidurnya posisi terbuka,” katanya. Untuk sementara, Karolin hanya mampu makan sedikit bubur atau nasi sesendok, serta susu, agar tetap bisa mengonsumsi obat.
Orang Tua Karolin Berencana Pulang
Orang tua Karolin yang bekerja di Bali sangat sedih mendengar anaknya terluka. Mereka menangis dan berencana pulang ke kampung halaman begitu ada kapal.
“Kalau kapalnya sudah jalan, mungkin kembali ke sini mereka,” kata Katarina.
Bagi Katarina, pengalaman ini menjadi peristiwa yang sulit dilupakan. Selama ini ia hanya melihat gempa di televisi, tetapi kini merasakan langsung dahsyatnya guncangan.
“Traumanya luar biasa. Selama ini kami hanya lihat di TV, tapi ini yang kami rasakan luar biasa, sungguh luar biasa,” katanya.
Meski rumah hancur dan mereka terluka, Katarina bersyukur masih diberi keselamatan. “Kami rasa Tuhan itu ada, Tuhan itu baik, Tuhan masih melindungi kita walaupun rumah roboh, tapi tidak kasih sengsara, tidak kasih meninggal,” ucapnya.
Katarina memilih tetap di pengungsian sampai kondisi aman. Setelah Karolin pulih, mereka berencana kembali ke Manggarai Timur, meski harus tinggal di tenda.
“Biar pun pulang, pasti tidurnya di tenda-tenda saja. Tidak mungkin kami masuk lagi ke rumah. Mau perbaiki dulu, belum bisa,” ujarnya. Ia khawatir gempa kembali terjadi jika rumah diperbaiki dan langsung ditempati.
“Soalnya gempa ini, kita tidak tahu kapan lagi datang. Siapa tahu renovasi rumah, kasih baik-baik, masuk, timbul lagi gempa,” katanya. Untuk sementara, warga di sana tidur di tenda-tenda.
Sementara itu, gempa susulan masih terus terjadi. Plt Kapusdatin Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan hingga Senin (17/8), jumlah gempa susulan mencapai 1.576 kali. BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang luka-luka. Tidak ada lagi laporan korban hilang, tetapi tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban yang perlu dievakuasi.
Artikel Terkait
Trauma Healing dan Perpustakaan Keliling Hadir di Pengungsian Gempa NTT
Korban Gempa NTT Capai 70 Tewas, 331 Ribu Mengungsi
Kemensos Kerahkan Bantuan Rp14,65 Miliar untuk Penanganan Gempa NTT
Kemensos Kerahkan Bantuan Rp14,65 Miliar untuk Korban Gempa NTT