Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) resmi meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) segmen ritel pada Senin, 17 Agustus 2026. Pada tahap awal, kartu ini hadir dalam bentuk digital dan dapat digunakan untuk transaksi QRIS pindai maupun QRIS nirsentuh (tap).
Peluncuran ini menjadi langkah perluasan instrumen pembayaran tunda domestik yang menyasar pengguna individu dan korporasi. KKI juga diarahkan untuk memperkuat sistem pembayaran nasional.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Ryan Rizaldy, mengatakan KKI ritel dihadirkan untuk menjangkau pengguna pembayaran kredit, terutama generasi muda yang semakin dominan dalam transaksi non-tunai. "Paling tidak pangsa masyarakat yang saat ini memang akhir-akhir ini terutama yang digerakkan oleh generasi Z dan generasi milenial, pengguna sumber dana kredit ini bisa masuk ke dalam KKI segmen ritel ini," ujarnya di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Ryan menjelaskan, pengembangan KKI dilakukan secara bertahap. Dimulai dari fitur pembayaran QRIS, kemudian berlanjut ke pembayaran daring, dan nantinya diteruskan dengan penerbitan kartu fisik.
Pada tahap perdana, KKI digarap oleh sejumlah Penyelenggara Jasa Pembayaran, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank Mega, serta BSI untuk skema pembiayaan syariah.
Penguatan Skema Kredit Domestik
Pejabat Sementara Gubernur BI, Destry Damayanti, menyebut kehadiran KKI ritel sebagai wujud kedaulatan sistem pembayaran nasional sekaligus instrumen untuk menopang daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, implementasi KKI disiapkan sebagai alternatif instrumen deferred payment domestik yang lebih efisien, pruden, dan terintegrasi dengan infrastruktur sistem pembayaran nasional.
"Kehadiran skema domestik ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem digital dan menyediakan alternatif fasilitas kredit untuk menopang konsumsi masyarakat," tutur Destry.
Sementara itu, Ketua ASPI, Santoso Liem, memproyeksikan KKI yang terhubung dengan QRIS berpotensi menggeser porsi transaksi kartu kredit konvensional ke skema domestik hingga 10 persen. Ia menyebut pangsa pasar kartu kredit di industri kini tersisa sekitar 15 persen di tengah pesatnya adopsi QRIS. "Jadi kita harapkan dengan kartu kredit KKI ini sudah mulai di-introduce dengan QRIS, kita harapkan di antara 15 persen itu, mungkin 10 persen akan pindah," kata Santoso.
Artikel Terkait
Rupiah Diprediksi Masih Tertekan hingga Akhir 2026, Ini Kata Ekonom
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus USD453,4 Miliar pada Kuartal II-2026
BI Perluas Kebijakan MDR QRIS 0 Persen untuk Semua Merchant Mulai Oktober 2026
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas Insentif QRIS pada HUT ke-81 RI