Skema kepemilikan motor listrik di Indonesia kian beragam, dari pembelian langsung hingga opsi sewa baterai. Model sewa baterai dinilai menjadi solusi untuk menekan biaya awal kepemilikan atau capital expenditure (capex) kendaraan listrik, sekaligus mengurangi kekhawatiran konsumen terhadap penurunan kualitas baterai dalam jangka panjang.
Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, mengatakan skema ini secara finansial menggeser sebagian biaya modal di awal menjadi biaya operasional bulanan. "Sewa beli itu menolong. Satu, menolong risiko. Kemudian yang kedua juga mendapatkan harga awal capex-nya yang lebih murah. Jadi sebagian di dalam bentuk opex dipindahkan biayanya," ujarnya kepada kumparan, Selasa (11/8/2026).
Menurut Agus, skema sewa baterai sangat cocok untuk konsumen dengan mobilitas tinggi, seperti pengemudi ojek online (ojol) yang menempuh jarak sekitar 100 kilometer per hari. Dalam simulasi yang ia paparkan, pengeluaran untuk bahan bakar minyak (BBM) bisa mencapai Rp400 ribu per bulan jika beroperasi 20 hari. "Kalau 2 liter BBM yang subsidi pun Rp20 ribu. Kalau dia operasi katakanlah sebulan 20 hari, itu udah Rp400 ribu untuk BBM-nya doang," jelasnya.
Dengan motor listrik ber-sewa baterai, pengeluaran bulanan pengemudi dapat ditekan signifikan. "Dia cuman bayar Rp200 ribu ataupun Rp300 ribu, tapi dia gak worry about baterai karena ada garansi. Dari sini menurut saya memang opex-nya pasti beda lah, minimal Rp200 ribu banding Rp400 ribu itu udah cukup signifikan," tambahnya.
Catatan untuk Pengguna Jarak Dekat
Meski demikian, skema ini belum tentu menguntungkan bagi pengguna harian dengan jarak tempuh pendek, misalnya commuter dari rumah ke kantor. Bagi kelompok ini, biaya sewa baterai bulanan justru bisa terasa lebih mahal dibandingkan membeli BBM secara eceran. "Bagi orang yang cuman rumah-kantor, itu mungkin even Rp200 ribu per bulan sewa itu lebih mahal daripada BBM motornya. Karena pengeluaran BBM dia mungkin sehari kalau cuman rumah-kantor itu paling 20 kilometer," kata Agus.
Selain efisiensi biaya energi, operasional motor listrik juga dinilai lebih hemat dari segi perawatan rutin bulanan. Motor bensin memerlukan pergantian oli, perawatan CVT, dan komponen berkala lainnya yang menambah beban operasional. "Kalau ini (motor listrik) kan enggak. Ya baterainya ya itu aja, selama gak ada yang signifikan ya paling berkala periodik gak harus tiap bulan ke bengkel lah," tuturnya.
Secara umum, Agus menyimpulkan bahwa model bisnis sewa baterai terbukti cukup sukses menarik minat masyarakat Indonesia, khususnya kelompok pengguna dengan jarak tempuh panjang.
Artikel Terkait
GIIAS 2026: Polytron Jadi Pilihan Paling Rasional di Tengah Banjir Skuter Listrik
Polytron Luncurkan Program Sewa Baterai untuk Motor Listrik
Polytron Pamerkan Lini Motor Listrik di GIIAS 2026, Targetkan Penjualan Tinggi
Motor Listrik Program Makan Bergizi Gratis Akan Dialihkan ke Kementerian Lain