Pramono Sebut Kesenjangan Ekonomi Jadi Masalah Utama Jakarta

- Senin, 10 Agustus 2026 | 02:36 WIB
Pramono Sebut Kesenjangan Ekonomi Jadi Masalah Utama Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa ketimpangan antara warga kaya dan miskin menjadi salah satu persoalan terbesar yang dihadapi ibu kota. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Doa Bersama dan Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8).

“Bapak Ibu saudara saudari sekalian. Sebagai Gubernur Jakarta, problem utama Jakarta adalah yang disebut dengan gini ratio dan orang miskin,” kata Pramono di hadapan para hadirin.

Menurut Pramono, Jakarta menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi. Kondisi ini membuat kesenjangan menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

“Semua orang kaya ada di Jakarta. Sebagian orang yang tidak mampu, tidak beruntung juga ada di Jakarta,” ujarnya.

Pramono kemudian menyoroti angka rasio gini Jakarta yang mencapai 0,422. Rasio gini adalah indikator statistik untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Nilainya berkisar antara 0 yang berarti pemerataan sempurna, hingga 1 yang menunjukkan ketimpangan sempurna.

Semakin mendekati 1, kesenjangan ekonomi semakin lebar. Sebaliknya, jika semakin mendekati 0, distribusi pendapatan semakin merata.

“Maka ada yang disebut dengan gini ratio yaitu perbandingan orang kaya dan miskin di Jakarta paling besar, 0,422,” katanya.

Pramono juga menekankan bahwa persoalan Jakarta tidak hanya menyangkut penduduk yang secara administratif tinggal di dalam wilayah DKI Jakarta. Aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat di kawasan aglomerasi turut bergantung pada Jakarta.

“Orang yang menggantungkan kehidupan dan Jakarta kurang lebih sekarang ini hampir 40 juta. Karena aglomerasi sumber utamanya dari Jakarta,” tuturnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags