Perang Iran Mengalirkan Rezeki ke Raksasa Minyak Dunia

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:30 WIB
Perang Iran Mengalirkan Rezeki ke Raksasa Minyak Dunia

Penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah telah mengganggu aliran minyak dan gas global, mendorong harga energi melonjak selama berbulan-bulan dan mengguncang pasar di seluruh dunia. Di tengah kekacauan itu, perusahaan-perusahaan minyak raksasa justru mencatatkan keuntungan besar dari dampak perang di Iran.

ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, TotalEnergies, dan Saudi Aramco melaporkan lonjakan laba yang signifikan pada kuartal II-2026, menurut laporan Al Jazeera yang dikutip pada Minggu (9/8/2026). Berikut rincian perolehan mereka.

Laba Kuartalan Tertinggi

ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar di Amerika Serikat, membukukan pendapatan USD14,5 miliar pada kuartal kedua tahun ini. Ini merupakan laba kuartalan tertinggi dalam empat tahun terakhir, ditopang oleh harga minyak yang tinggi dan margin penyulingan yang lebih kuat. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah ekspektasi Wall Street akibat gangguan produksi di Qatar.

Chevron, perusahaan minyak terbesar kedua di AS, mencatat pendapatan USD12 miliar pada periode yang sama, melampaui perkiraan analis. Laba kuartalan ini menjadi yang tertinggi dalam enam tahun, dengan pendapatan hulu melonjak 200 persen secara tahunan menjadi USD8,2 miliar, sementara pendapatan hilir mencapai USD4,9 miliar kinerja terkuat sejak awal 2010-an.

Shell, grup energi asal Inggris-Belanda yang menjadi perusahaan minyak terbesar di Eropa, berhasil melipatgandakan pendapatan kuartal keduanya menjadi hampir USD10 miliar. Kenaikan harga minyak dan gas serta operasi gas alam cair (LNG) yang tangguh menjadi pendorong utama, meskipun ada gangguan pada sebagian produksi di Timur Tengah.

Kinerja Bervariasi

TotalEnergies, raksasa minyak asal Prancis, mencatatkan pendapatan yang meningkat 67 persen pada kuartal kedua, menjadi kuartal terbaiknya dalam hampir tiga tahun. Harga minyak yang lebih tinggi dan margin keuntungan yang kuat dari penyulingan bahan kimia mengimbangi pendapatan LNG yang lebih lemah.

BP, perusahaan minyak besar Inggris, melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD5,73 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan USD2,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini juga berada di atas perkiraan analis.

Saudi Aramco, produsen minyak milik negara terbesar di dunia, mencatatkan pendapatan kuartalan yang naik 44 persen secara tahunan menjadi USD32,69 miliar. Pipa Timur-Barat Saudi dinilai membantu mengurangi ketergantungan kerajaan pada Selat Hormuz untuk ekspor minyaknya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags