Teheran mengisyaratkan bahwa negosiasi dengan Oman mengenai Selat Hormuz hampir mencapai kesepakatan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak serta-merta membuka kembali jalur pelayaran strategis itu.
Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan bahwa pembukaan selat masih bergantung pada sejumlah syarat, termasuk kompensasi atas pelanggaran Perjanjian Islamabad. Perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diteken pada Juni itu runtuh akibat perbedaan pandangan mengenai status Selat Hormuz.
Iran selama ini mengklaim sebagai satu-satunya pengendali selat tersebut. Sementara itu, AS berupaya membuka rute alternatif di jalur maritim itu, yang memicu kembali pertempuran antara kedua negara.
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman. Sebelum ditutup akibat pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada Februari, jalur ini dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.
Teheran menyatakan hanya berunding dengan Oman, meskipun Presiden AS Donald Trump bersikukuh bahwa negosiasi tersebut melibatkan pihaknya. Trump terus mendesak agar Selat Hormuz kembali normal tanpa biaya atau hambatan, dan mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika jalur itu gagal dibuka.
Di pasar minyak, harga masih berfluktuasi seiring pelaku pasar mencermati prospek kesepakatan. Brent ditutup di atas USD83 per barel, mencatat kerugian mingguan ketiga berturut-turut.
Kesepakatan apa pun terkait Selat Hormuz tetap memerlukan persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Belum ada indikasi apakah ia telah memberikan restu terhadap proposal yang ada saat ini.
Artikel Terkait
Iran Tetapkan Enam Syarat Berat untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Iran dan Oman Rundingkan Skema Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz
UEA Tuding Iran Serang Tanker ADNOC di Selat Hormuz
Iran Ajukan Syarat untuk Buka Kembali Selat Hormuz