Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan kelompok Houthi menghantam sejumlah lokasi militer di dalam wilayah Yaman pada Kamis (6/8/2026), menewaskan sedikitnya 30 tentara pemerintah dan melukai 15 lainnya. Ini merupakan serangan besar pertama dalam beberapa tahun terakhir, menandai eskalasi signifikan dalam konflik berk berkepanjangan antara Houthi dan pemerintah Yaman.
Sasaran serangan meliputi kamp militer dan titik berkumpulnya pasukan pemerintah di Hadramout dan Marib. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan yang disiarkan mengklaim serangan tersebut menewaskan "ratusan" orang dan "menghancurkan sejumlah besar kamp serta depot". Ia juga menuding serangan dilancarkan setelah pasukan Houthi "mendeteksi mobilisasi militer besar-besaran oleh Arab Saudi" yang bertujuan meningkatkan eskalasi konflik.
Konflik Yaman berakar sejak Houthi dan sekutunya merebut ibu kota Sanaa pada September 2014. Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah. Setelah beberapa tahun mereda, pertempuran kembali memanas seiring konsolidasi antara pasukan pemerintah dan kekuatan wilayah selatan pasca penarikan Uni Emirat Arab dari Yaman pada 2025. Houthi juga semakin terlibat dalam konflik regional, termasuk mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Saudi dan serangan di Selat Bab al-Mandeb bulan lalu.
Saree menegaskan kelompoknya kini bersiaga penuh menghadapi perkembangan militer apa pun, mengingat pasukan pro-pemerintah tampaknya bersiap membalas serangan Kamis tersebut dan menghadapi kembali berkobarnya perang yang sempat mereda.
Menuju Konflik Lebih Luas
Para analis menilai serangan terhadap pasukan pemerintah di Marib dan Hadramout menandai titik balik, mendekatkan Yaman pada konflik yang lebih luas. Abdul Rahman Saleh, warga Sanaa berusia 34 tahun, mengungkapkan dampak perang kini benar-benar dirasakan warga. "Ini bukan lagi sekadar ancaman potensial. Ini telah menjadi kenyataan. Kami berulang kali mendengar suara ledakan di Sanaa selama beberapa hari terakhir. Kami menyaksikan angka kematian dan jumlah korban luka dalam berita. Pihak-pihak yang bertikai bahkan membanggakan serangan mematikan mereka melalui saluran media masing-masing," ujarnya. "Hal ini mengingatkan kita pada gencatan senjata sebelum tahun 2022. Kedua belah pihak sama-sama haus akan balas dendam. Sebagai warga sipil, saya merasa butuh keajaiban untuk menghentikan perang ini sekarang."
Fuad Mussed, peneliti Yaman yang fokus pada urusan politik dan militer, meyakini serangan terbaru Houthi merupakan bukti keputusan final untuk terlibat dalam konfrontasi terbuka. "Pesan dari Houthi sangat jelas: mereka memilih untuk melakukan eskalasi, baik di dalam Yaman maupun di luar wilayahnya," katanya. "Seiring mereka memperluas serangan di dalam negeri, mereka juga terus menargetkan kapal-kapal di Laut Merah serta berbagai lokasi di Arab Saudi. Jadi, bisa dikatakan bahwa situasi 'bukan damai namun juga bukan perang' itu telah berakhir."
Meski perang sebagian besar terhenti sejak April 2022 saat gencatan senjata yang ditengahi PBB disepakati, kedua belah pihak belakangan menunjukkan keinginan untuk pertempuran menentukan. Ahmed Nagi, analis senior di International Crisis Group, mengatakan perluasan serangan lintas batas Houthi menandakan ancaman perang habis-habisan bukan mustahil. "Walaupun masih ada peluang bagi kedua belah pihak untuk kembali pada kebijakan pengendalian konflik, masalahnya adalah setiap langkah eskalasi baru membuat hal tersebut menjadi jauh lebih sulit. Jika pola ini terus berlanjut dan Houthi meningkatkan serangan mereka, maka risiko pecahnya babak baru peperangan akan meningkat secara signifikan," ujarnya. "Berdasarkan situasi saat ini, indikator yang mengarah pada kembalinya konflik jauh lebih kuat dibandingkan indikator yang mengarah pada de-eskalasi."
'Perang adalah Prioritas'
Sheikh Othman Majali, anggota Dewan Kepemimpinan Presiden yang didukung Arab Saudi, menegaskan tidak akan ada prospek perdamaian selama "milisi teroris Houthi" terus mengancam Yaman dan kawasan. "Hal ini hanya dapat dicapai dengan menghadapi dan menggulingkan milisi tersebut, serta menghentikan bahaya dan kejahatan yang mereka timbulkan terhadap rakyat dan kawasan kita," ujarnya kepada Yemen TV.
Saddam Al-Huraibi, pengamat politik Yaman, menilai pembicaraan damai saat ini tidak relevan. Serangan Houthi terhadap tentara pemerintah merupakan "pesan tegas bahwa perang adalah prioritas" bagi kelompok tersebut. "Selama bertahun-tahun, rakyat Yaman telah menantikan tercapainya kesepakatan damai atau pelaksanaan peta jalan perdamaian antara Houthi dan pemerintah Yaman. Kini, Houthi justru memulai perang nyata yang memupus segala harapan perdamaian," katanya. "Mereka memanfaatkan perundingan damai yang berlangsung bertahun-tahun itu untuk terus-menerus menimbun dan memproduksi senjata. Hal ini membuat mereka siap menghadapi lawan-lawan lokal dan mampu melancarkan serangan hingga ke wilayah Israel dan Arab Saudi. Tidaklah mudah membujuk mereka untuk meninggalkan jalan peperangan."
Al-Huraibi juga menyoroti bahwa komunitas internasional dan Arab Saudi telah memberikan terlalu banyak waktu bagi Houthi untuk menyetujui usulan perdamaian. Menurutnya, tidak adanya tanggapan dari pemerintah Yaman dan Arab Saudi menyusul eskalasi Houthi dapat ditafsirkan sebagai tanda kelemahan. "Menganggap sikap diam terhadap serangan Houthi ke arah pasukan Yaman atau fasilitas Arab Saudi sebagai bentuk kesabaran strategis adalah hal yang tidak masuk akal. Jika sikap ini terus berlanjut, hal itu mencerminkan ketidakberdayaan pemerintah Yaman dan Arab Saudi, serta akan mengikis kepercayaan rakyat terhadap mereka," tegasnya.
Pertempuran Marib
Marib kembali menjadi pusat konflik dengan bentrokan mematikan di garis depan dalam beberapa hari terakhir. Adel Dashela, peneliti di Sanaa Center for Strategic Studies, mengatakan bagi Houthi, perebutan kendali atas provinsi kaya minyak dan gas ini bisa menjadi pertempuran hidup-mati. "Berdasarkan eskalasi hari ini serta serangan terhadap kamp-kamp pemerintah di Hadramout dan Marib, jelas bahwa kelompok Houthi sedang menuju eskalasi militer besar-besaran yang menyasar wilayah minyak dan gas di Marib," ujarnya. "Segala indikasi menunjukkan bahwa perang darat antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi akan segera terjadi, kecuali jika ada terobosan dalam krisis ini sebuah skenario yang tampaknya kecil kemungkinannya saat ini."
Dalam pernyataan Kamis, Houthi menyatakan tidak akan "mentoleransi" kehadiran militer Arab Saudi di Yaman dan menegaskan hak untuk menghadapi setiap tindakan bermusuhan. Dashela menilai Houthi mungkin unggul dalam kemampuan rudal, namun skala kekerasan akan sangat dahsyat jika perang besar pecah. "Jika konflik berskala penuh meletus di seluruh garis depan pertempuran, kelompok tersebut akan kesulitan menghadapi pasukan pemerintah. Akibatnya, jika perang semacam itu terjadi, situasinya tidak akan sama dengan konflik-konflik sebelumnya; justru, perang tersebut akan jauh lebih berdarah," katanya.
Artikel Terkait
Serangan Houthi Tewaskan 45 Tentara Yaman, Pemerintah Janji Balas
Rudal Houthi Hantam Arab Saudi, 11 Terluka
Kapal Berbendera India Tenggelam di Laut Merah, Yaman Tuding Houthi
Bandara Najran Berhenti Beroperasi Setelah Diserang Drone Houthi