Rindra Danantara: Indonesia Emas 2045 Versi Hijriah, Dimulai dari Era Kegelapan

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Rindra Danantara: Indonesia Emas 2045 Versi Hijriah, Dimulai dari Era Kegelapan

Komika Rindra Danantara, yang menjabat sebagai Menteri Kegelapan di Kabinet Bayangin, meyakini cita-cita Indonesia Emas akan terwujud pada 2045. Namun, ia menegaskan bahwa tahun tersebut dihitung berdasarkan kalender Hijriah, bukan Masehi.

"Kami itu sebenarnya percaya betul dengan Indonesia Emas 2045, tapi Hijriah," kata Rindra dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026).

Menurut Rindra, Indonesia akan memasuki era keemasan setelah melewati masa kegelapan. Ia menganalogikan dengan Renaissance di Eropa, di mana zaman keemasan tidak datang tiba-tiba, melainkan diawali oleh Dark Age atau zaman kegelapan.

Ia menjelaskan, Kementerian Kegelapan sendiri terbentuk sejak Gibran Rakabuming Raka dinyatakan boleh mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden. Padahal, menurutnya, hal itu menabrak aturan yang ada, bahkan sampai dibuatkan aturan baru yang membolehkan.

"Ya tiba-tiba muncul seorang sosok kegelapan yang bisa menggetarkan MK kan, yaitu Almas Tsaqibbiru (mahasiswa Surakarta yang menggugat batas usia capres-cawapres), itu kan tiba-tiba dia muncul terus pergi kan, luar biasa, saya tidak tahu dia di mana sekarang. Dia adalah sosok kegelapan yang mungkin orang-orang lain juga tidak sangka, tidak menyana dia yang bisa menggetarkan MK itu. Hukum Indonesia itu benar-benar bergetar karena seorang Almas Tsaqibbiru, bukan yang lain," ujar Rindra.

Dari peristiwa itulah, Rindra dan rekan-rekannya merasa perlu ada kelompok yang membantu menavigasi Indonesia di era kegelapan, yaitu Kementerian Kegelapan. Sebab, jika hanya sekadar membuat kesalahan, Indonesia sudah cukup sering melakukannya sebelumnya.

"Kalau 'learning from the mistakes' sih kita 'mistake' sudah melakukan sebenarnya, tapi maksudnya ini kayak semakin mempertegas. Jadi, memang ada ibaratnya, kasarnya, ada penderitaan bersama yang di mana kita pada saat itu kita sadar, oh kita saling membutuhkan nih sebagai warga negara hanya warga yang bisa membantu warga lainnya karena pemerintahnya sendiri mungkin tidak bisa diandalkan," kata Rindra.

Navigasi yang dilakukan Kementerian Kegelapan, salah satunya, dengan menjelaskan pernyataan atau kebijakan Presiden Prabowo. Rindra melihat banyak warga yang masih salah paham terhadap program-program presiden.

Misalnya, banyaknya kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rindra kerap menyampaikan bahwa hal itu berkaitan dengan perwujudan janji kampanye Presiden Prabowo untuk melahirkan 10.000 dokter.

"Waktu itu Pak Prabowo ketika sedang kampanye, beliau selain MBG, Makan Bergizi Gratis, dia itu juga mencanangkan sebuah program yaitu 10.000 dokter. Nah, dikasih pasiennya dulu 10.000 dokternya dari keracunan itu. Kalau 10.000 dokter tidak ada pasiennya, ngapain 10.000 dokternya? Masa ke sawah seperti TNI? Kan tidak seperti itu, kan sayang, harus ada pasiennya, deman-nya diciptakan dulu baru supply-nya," ujar Rindra.

Ia menilai konsep serupa juga dicanangkan dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Rindra mengaku heran program itu menuai kontroversi, padahal menurutnya KDKMP merupakan mitigasi yang bagus.

Termasuk, ketika Indonesia kembali mengalami situasi kerusuhan seperti 1998, penjarahan yang terjadi bersifat sporadis di mana-mana. Rindra menambahkan, KDKMP hadir untuk mengantisipasi hal itu.

"Nah, kalau ada Kopdes, targetnya sudah jelas penjarahannya ke mana, itu sudah jelas yang ada sembako di mana, yang ada kipas 11 juta itu di mana, sudah jelas," kata Rindra.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags