Layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026. Meski mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat kepuasan jemaah terhadap layanan di Armuzna tercatat sebagai yang terendah dibandingkan lokasi lainnya.
Berdasarkan Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), indeks kepuasan layanan di Armuzna mencapai 79,7 poin. Angka ini berada di bawah layanan di Madinah yang memperoleh 82,53 poin, Makkah 82,59 poin, dan Bandara 84,76 poin.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengakui tantangan terbesar penyelenggaraan haji masih berada di Mina. Menurutnya, keterbatasan kapasitas kawasan Mina menjadi faktor utama yang memengaruhi kualitas layanan bagi jemaah.
"Tantangannya di Mina. Semuanya di Mina tantangannya, karena Mina tempatnya relatif kurang dari separuhnya Arafah, sehingga diperlukan berbagai terobosan untuk mengatasinya," kata Irfan saat dijumpai di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Sebagai upaya mengurangi kepadatan di Mina, pemerintah pada penyelenggaraan haji 2026 telah menerapkan skema tanazul dengan memindahkan sekitar 20.000 jemaah dari tenda Mina ke hotel. Menurut Irfan, kebijakan tersebut akan terus dievaluasi dan berpeluang diperluas pada penyelenggaraan haji tahun depan agar kondisi tenda di Mina menjadi lebih longgar dan nyaman bagi jemaah.
"Kemungkinan tahun depan akan kita tambah jumlah yang tanazul sehingga jumlah yang ada di tenda berkurang sehingga tendanya kita harapkan lebih longgar. Itu yang kita lakukan," katanya.
Artikel Terkait
Menteri Haji Tegaskan Tak Ada Ruang Korupsi di Kemenhaj
Pemerintah Usul Biaya Haji 2027 Naik Rp19 Juta, Prabowo Minta Tak Bebani Jemaah
Biaya Haji 2027 Berpeluang Turun Imbas Harga Minyak Dunia Melemah
Kemenhaj Usul Kenaikan Biaya Haji Rp 19 Juta, Jemaah Tak Perlu Bayar Lebih