Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Setelah sejumlah insiden keracunan dilaporkan di Jawa, kini giliran Jayapura yang mencatat kasus serupa. Kejadian ini semakin menegaskan kekhawatiran publik terhadap keamanan program andalan pemerintah tersebut.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa MBG akan diprioritaskan di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T). Namun, alih-alih meningkatkan gizi masyarakat, program ini justru menimbulkan masalah baru. Masyarakat di daerah 3T kini menghadapi satu 'T' tambahan: teracuni.
Di Jayapura, kasus keracunan ini terungkap berkat peran aktif gereja setempat yang mencatat dan memantau kejadian. Tanpa keterlibatan mereka, besar kemungkinan insiden ini tidak akan terkuak ke publik. Seperti yang sering terjadi di Papua, penderitaan warga sering kali tidak mendapat perhatian yang layak.
Insiden ini semakin memperkuat kritik bahwa program MBG tidak dirancang untuk memperbaiki gizi rakyat, melainkan untuk kepentingan pejabat, kroni, dan oligarki. Program yang sudah busuk sejak awal ini tampaknya lebih mengutamakan kepentingan politik daripada kesejahteraan masyarakat.
Artikel Terkait
Pemerintah Izinkan Ponpes Besar Bangun Dapur MBG Sendiri
BGN Ancam Cabut Izin Dapur MBG yang Terbukti Sengaja Menyebabkan Keracunan
BGN Buka Peluang Serahkan Kasus Keracunan MBG ke Polisi Jika Ada Unsur Sabotase
BGN Targetkan Kasus Keracunan MBG Nol, Terapkan Zero Tolerance