Kejanggalan Kematian Sutrimo: Sempat Gelisah dan Dibekali Rp5 Juta oleh Sosok Misterius

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:40 WIB
Kejanggalan Kematian Sutrimo: Sempat Gelisah dan Dibekali Rp5 Juta oleh Sosok Misterius

Kematian Sutrimo, yang disebut sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, menyisakan sejumlah kejanggalan. Sebelum meninggal, Sutrimo sempat mengeluhkan situasi yang dihadapinya kepada kerabat.

Presiden Petisi Ahli, Pitra Romadoni, mengungkapkan hal itu dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Rabu (5/8/2026) malam. Menurut Pitra, Sutrimo telah pulang ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah, sekitar sepekan sebelum meninggal. Dalam kesempatan itu, Sutrimo mencurahkan kegelisahannya kepada kerabat.

"Kematian dari Sutrimo ini sangat janggal sekali. Janggalnya yang pertama, yang bersangkutan ini sudah pulang ke Jawa, Banyumas," ujarnya.

"Satu minggu sebelum dia meninggal dunia itu dia sudah pulang. Kegelisahan dia, dia sampaikan ke kerabatnya bahwasannya pimpinan saya lagi bermasalah dan sudah banyak teman-temannya yang ditangkap-tangkapin," lanjut Pitra.

Pitra mengaku mendapat informasi bahwa setelah berada di Banyumas, Sutrimo diminta kembali ke Jakarta oleh sosok yang hingga kini masih misterius. Ia bahkan disebut dibekali uang sebesar Rp5 juta untuk kembali ke ibu kota.

"Diberikanlah uang Rp5 juta disuruh balik ke Jakarta. Karena dia sebagai Karumga, dia memiliki kewajiban sebagai kepala rumah tangga yang bersangkutan dia balik nih," jelas dia.

Setelah kembali ke Jakarta, Sutrimo ditemukan meninggal dunia di depan sebuah klinik kecantikan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pitra menilai kondisi tersebut janggal karena, menurut informasi yang diterimanya, Sutrimo tidak memiliki riwayat penyakit.

"Dari awal dia tidak punya riwayat sakit, tiba-tiba dari mulutnya keluar busa," tuturnya.

Sejumlah kejanggalan itu, kata Pitra, menjadi alasan pihaknya mendorong pelaporan kepada polisi terkait dugaan kematian tidak wajar tersebut. Ia juga mengungkapkan adanya dorongan dari aktivis hak asasi manusia (HAM) dan aktivis sosial agar dilakukan ekshumasi.

"Artinya tidak hanya selesai di dalam pemeriksaan rumah sakit kemarin, tapi teman-teman ini menginginkan agar dilakukan ekshumasi," pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags