Dewan Perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat merevisi draf peta jalan perdamaian Gaza, menetapkan bahwa penarikan pasukan Israel baru akan dimulai setelah Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya. Perubahan ini muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kabinetnya menyatakan keberatan keras terhadap draf awal yang dirilis sebelumnya.
Dalam draf terbaru yang dipublikasikan pekan lalu, Dewan Perdamaian menghapus ketentuan penarikan bertahap pasukan IDF dari Garis Kuning yang sebelumnya berjalan paralel dengan proses perlucutan senjata Hamas. Kini, IDF diizinkan mempertahankan posisinya hingga proses dekomisioning senjata Hamas selesai sepenuhnya.
Ketentuan baru ini mencakup penghancuran jaringan terowongan dan penyerahan semua jenis persenjataan, dari senjata ringan hingga berat. Proses demiliterisasi akan diawasi langsung oleh Pasukan Stabilisasi Internasional dan Komite Verifikasi Implementasi.
Revisi ini memicu reaksi beragam. Israel, meski mendapat jaminan baru, tetap menyatakan tidak akan menghentikan serangan udara atau mundur dari posisi strategis karena menilai Hamas masih membangun kekuatan militer. Militer Israel juga menetapkan "garis merah" yang menuntut kebebasan penuh untuk bertindak di Gaza kapan saja.
Di sisi lain, Hamas dan faksi Palestina lainnya menolak keras formula pelucutan senjata tanpa jaminan penarikan pasukan Israel dan kepastian politik mengenai negara Palestina yang berdaulat. Pejabat senior Hamas memperingatkan bahwa menyerahkan senjata tanpa komitmen pengakhiran okupansi hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan dan memicu kekacauan internal di Gaza.
Artikel Terkait
Menteri Keamanan Israel Serukan Pembunuhan 30-40 Warga Gaza Setiap Malam
Kushner Tinggalkan Yerusalem Tanpa Terobosan, Gencatan Senjata Gaza Masih Jauh
Kapal Aktivis Berlayar dari Bristol untuk Tembus Blokade Gaza
Sinyal Perubahan: Dari Ancaman Fidan hingga Pertemuan Kushner dengan Hamas