Israel disebut tidak senang dengan kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat yang membuat Hamas setuju melucuti senjatanya. Hal itu diungkapkan oleh mantan duta besar Israel, Alon Pinkas, yang menilai kesepakatan tersebut justru menjadi bumerang bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut Pinkas, ketidaksenangan Israel terlihat dari meningkatnya serangan di Gaza dalam 48 jam terakhir setelah pengumuman kesepakatan. Israel juga secara resmi telah mengajukan keberatan kepada Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden AS, kata Pinkas yang pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal Israel di New York pada 2000-2004.
"Israel dihadapkan pada situasi di mana presiden AS mengatakan ada kesepakatan, tetapi sebenarnya tidak ada kesepakatan, dan karena itu saya sangat skeptis bahwa ini akan berhasil," ujarnya.
Bagi Netanyahu, kesepakatan Trump dengan Hamas merupakan "kegagalan besar", demikian pula "perang yang gagal di Iran". Netanyahu, yang menghadapi pemilihan umum pada bulan Oktober, "harus somehow mempermanis apa yang terjadi di Gaza" kepada publik domestik, tambah Pinkas.
Menyusul konsesi Hamas, Israel diharuskan untuk mundur ke zona penyangga yang disebut "Garis Kuning", mengizinkan bantuan kemanusiaan mengalir tanpa hambatan ke Gaza, dan menghentikan serangan terhadap Jalur Gaza. Namun, tidak satu pun dari hal itu terjadi sejak kesepakatan diumumkan pada hari Jumat, kata Pinkas.
Artikel Terkait
Serangan Udara Israel Tewaskan Delapan Warga Gaza di Tengah Rencana Pelucutan Senjata Hamas
Netanyahu Ancam Intervensi Militer Jika Ditangkap di Luar Negeri
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Empat Orang, Termasuk Dua Anak
Israel Tegaskan Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza Sebelum Hamas Perlucutan Senjata