PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) membukukan laba bersih sebesar Rp294,85 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka ini meningkat 6,81 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp276,05 miliar.
Capaian ini memperpanjang tren profitabilitas yang telah dipertahankan BNC selama dua tahun terakhir. Konsistensi tersebut mencerminkan fundamental bisnis yang semakin kokoh di tengah dinamika industri perbankan digital.
Direktur Utama BNC Eri Budiono menyatakan bahwa hasil kinerja semester pertama tahun ini merupakan wujud dari fokus perseroan dalam membangun fondasi bisnis yang lebih sehat. Menurutnya, strategi yang mengedepankan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, dan pengelolaan risiko yang disiplin mulai membuahkan hasil positif.
"Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif. Kami percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya," kata Eri di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Hingga akhir Juni 2026, total aset BNC tercatat sebesar Rp17,45 triliun. Adapun dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp12,30 triliun. Di tengah kondisi likuiditas industri yang masih relatif ketat, BNC menjaga likuiditas dengan pengelolaan yang prudent dan terukur.
Komposisi dana perseroan juga menunjukkan perbaikan. Dana tabungan meningkat menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10 persen secara tahunan. Hal ini mencerminkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap BNC.
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (net interest income) tercatat sebesar Rp1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat 6,77 persen menjadi Rp59,66 miliar, menandakan diversifikasi sumber pendapatan non-bunga semakin berkembang.
Dalam penyaluran kredit, BNC menerapkan strategi pertumbuhan yang selektif. Total kredit tercatat sebesar Rp7,13 triliun, menurun 11,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,09 triliun.
Penurunan tersebut terutama berasal dari segmen komersial dan korporat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi portofolio serta peningkatan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Fase Pertumbuhan Baru
Setelah lebih dari lima tahun bertransformasi sebagai bank dengan layanan digital, BNC memasuki fase pertumbuhan baru dengan mengusung tema "Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust". Tema ini mencerminkan arah strategis perseroan yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Pilar pertama, memperkuat kinerja (strengthening performance), dengan terus meningkatkan profitabilitas dan operasional sambil tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin risiko. Pilar kedua, memperkuat teknologi (strengthening technology), melalui penguatan kapabilitas digital, peningkatan keamanan sistem, serta inovasi produk dan layanan. BNC juga akan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari transformasi digital untuk memperkaya fitur layanan nasabah.
Pilar ketiga, memperkuat kepercayaan (strengthening trust), dengan memperkuat kepercayaan nasabah, regulator, investor, dan seluruh pemangku kepentingan melalui tata kelola yang baik, transparansi, kepatuhan, serta layanan yang andal.
Eri menegaskan bahwa fase pertumbuhan berikutnya tidak lagi hanya diukur dari besarnya ekspansi bisnis, melainkan dari kemampuan menciptakan pertumbuhan yang sehat, berkelanjutan, dan dipercaya.
"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh, kualitas operasional yang terus membaik, dan pengalaman lebih dari lima tahun sebagai bank dengan layanan digital, BNC kini menjadi bank berbasis digital yang sehat dan siap memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh stakeholders," tuturnya.
Artikel Terkait
Laba SMBC Indonesia Melonjak 40,3 Persen di Semester I-2026
Laba Astra Agro Melonjak 55 Persen di Semester I 2026
Laba Cinema XXI Turun 37 Persen meski Pendapatan Naik
Bank Danamon Raup Laba Rp2,4 Triliun di Semester I 2026, Kredit Tumbuh 12%