Laba Shell Melonjak Dua Kali Lipat Imbas Konflik Timur Tengah

- Jumat, 31 Juli 2026 | 04:50 WIB
Laba Shell Melonjak Dua Kali Lipat Imbas Konflik Timur Tengah

Laba bersih raksasa energi Shell melonjak lebih dari dua kali lipat pada kuartal II 2026, didorong oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Perusahaan yang berbasis di London itu membukukan laba sebesar 9,84 miliar dolar AS atau setara Rp177,91 triliun pada periode April-Juni, naik tajam dari 4,26 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah setelah pecahnya konflik antara AS, Israel, dan Iran. Gangguan pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia menjadi faktor utama. Selain itu, volatilitas harga energi yang tajam sepanjang konflik memberikan keuntungan lebih besar bagi bisnis perdagangan perusahaan.

CEO Shell, Wael Sawan, mengatakan kinerja operasional perusahaan mampu menghasilkan pencapaian yang sangat kuat di tengah gejolak pasar energi global. Jika digabungkan dengan laba kuartal I sebesar 6,92 miliar dolar AS, total laba semester I 2026 melonjak sekitar 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan energi besar lainnya seperti BP dan Equinor juga menikmati lonjakan laba tahun ini karena memperoleh keuntungan dari volatilitas harga minyak. Sebelum konflik pecah, harga minyak Brent berada di kisaran 73 dolar AS per barel. Setelah perang berlangsung, harganya sempat melampaui 120 dolar AS per barel, sebelum kembali turun ke bawah 100 dolar AS di tengah spekulasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Pergerakan harga yang tajam tersebut memperlebar selisih harga beli dan jual, sehingga meningkatkan potensi keuntungan dari aktivitas perdagangan minyak.

Produksi LNG di Qatar Terdampak

Di balik kenaikan laba, konflik Timur Tengah juga berdampak pada operasional perusahaan. Produksi LNG di Qatar telah berhenti sejak awal Maret akibat konflik. Selain itu, fasilitas Pearl Gas-to-Liquids (GTL) di negara tersebut mengalami kerusakan parah setelah terkena serangan rudal pada Maret lalu. Perusahaan memperkirakan proses perbaikan akan memakan waktu sekitar satu tahun.

Akibat gangguan tersebut, produksi gas turun menjadi 631.000 barel setara minyak per hari pada kuartal II, dari 909.000 barel setara minyak per hari pada kuartal I. Secara keseluruhan, produksi minyak dan gas selama semester I 2026 turun 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, perusahaan mulai memperoleh tambahan produksi dari proyek baru di Brasil dan Teluk Amerika.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags