Merumuskan Pancasila: Perenungan Bung Karno di Bawah Pohon Sukun Ende

- Kamis, 30 Juli 2026 | 05:45 WIB
Merumuskan Pancasila: Perenungan Bung Karno di Bawah Pohon Sukun Ende

Jauh sebelum pidato 1 Juni 1945 yang melahirkan Pancasila, Ir. Soekarno melewati masa pengasingan di Ende, Flores, yang menjadi titik awal perenungannya tentang dasar negara. Di bawah pohon sukun di tepi Pantai Ende, Bung Karno menghabiskan waktu berjam-jam merenungkan masa depan Indonesia, hingga akhirnya lima prinsip dasar negara itu lahir.

Puncak gagasan tersebut disampaikan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato yang penuh semangat, ia menawarkan lima prinsip yang diyakininya mampu menjadi fondasi bagi Indonesia merdeka. Lima prinsip itulah yang kemudian dikenal sebagai Pancasila dan menjadi dasar penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Pengasingan di Ende dimulai pada 14 Januari 1934, ketika Bung Karno tiba bersama istri, Inggit Garnasih, ibu mertua, Ibu Amsi, dan anak angkat mereka, Ratna Djuami. Pemerintah kolonial Belanda sengaja mengasingkannya ke wilayah terpencil agar hubungan dengan para pendukungnya terputus. Di kota kecil itu, kehidupan Bung Karno berlangsung sederhana, jauh dari hiruk-pikuk politik. Kondisi tersebut justru memberinya ruang untuk lebih banyak membaca, merenung, dan memperluas wawasan.

Selama di Ende, Bung Karno tidak hanya berkebun dan membaca. Ia juga kembali menyalurkan minatnya di bidang seni melalui melukis dan menulis naskah drama. Ia aktif berdiskusi dengan sejumlah tokoh agama, menjalin korespondensi dengan ulama T.A. Hassan di Bandung dan sering bertukar pikiran dengan Pastor Huijtink di Ende. Interaksi tersebut memperkaya pandangannya tentang ajaran Islam sekaligus memperdalam pemahamannya tentang toleransi dan kehidupan dalam masyarakat majemuk. Pengalaman ini diyakini ikut memengaruhi lahirnya nilai-nilai Pancasila.

Di antara berbagai lokasi di Ende, satu tempat menjadi favorit Bung Karno untuk menyendiri: di bawah pohon sukun yang menghadap ke Pantai Ende, sekitar 700 meter dari rumah pengasingannya. Menurut catatan sejarah, ia kerap mendatangi lokasi itu, terutama pada Jumat malam. Di bawah rindangnya pohon sukun, ia menghabiskan waktu berjam-jam merenungkan masa depan Indonesia. Dalam kisah yang pernah ia sampaikan, Bung Karno mengaku merasakan dorongan batin yang membuatnya terus kembali ke tempat tersebut. Sambil memandang hamparan laut dan ombak yang datang silih berganti, ia memaknai perjuangan bangsa sebagai revolusi yang tak pernah berhenti, layaknya gelombang samudra. Perenungan itu juga memperkuat keyakinannya bahwa kehidupan, perjuangan bangsa, dan cita-cita kemerdekaan berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil pemikiran yang tumbuh selama masa pengasingan kemudian berkembang menjadi konsep dasar negara yang disampaikan dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Di hadapan para anggota sidang, Bung Karno menegaskan pentingnya Indonesia memiliki landasan bersama sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno kembali mengunjungi Ende pada tahun 1950. Ia kembali mendatangi pohon sukun yang dulu menjadi tempatnya merenung. Sejak dekade 1980-an, lokasi tersebut dikenal sebagai Pohon Pancasila. Meski pohon sukun asli telah mati pada 1970-an, pemerintah daerah kemudian menanam kembali pohon sukun di titik yang sama sebagai simbol sejarah lahirnya dasar negara Indonesia. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu situs sejarah yang mengingatkan bahwa Pancasila lahir dari perjalanan panjang, refleksi mendalam, serta semangat Bung Karno dalam merumuskan dasar negara yang mampu mempersatukan keberagaman Indonesia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags