Perbekel atau Kepala Desa Batunya, I Made Riasa, mengungkapkan kronologi pengeroyokan terhadap pria berinisial KD yang diduga mencuri ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7) dini hari. Peristiwa itu bermula ketika pemilik ayam memergoki KD tengah mencuri. Saat dipergoki, KD disebut mengacungkan senjata tajam dan mengancam akan membunuh pemilik ayam.
“Dia meneror, saya bunuh kamu. Karena dia yang punya ayam merasa takut, lari yang punya ayam, tidak berani,” kata Riasa saat dihubungi, Rabu (29/7).
Pemilik ayam kemudian menghubungi adiknya yang sedang menghadiri resepsi di lokasi yang cukup jauh. Informasi itu lantas disampaikan kepada Ketua Pecalang Banjar Juwuk Legi dan warga yang berjaga di pos keamanan lingkungan (kamling). Tak lama, kulkul bulus atau kentongan tanda bahaya dibunyikan.
“Itu spontanitas. Ketika memang ada pencuri, pasti kulkul bulus dibunyikan,” jelasnya.
Bunyi kulkul membuat warga yang tengah beristirahat berdatangan ke lokasi. Riasa mengatakan warga telah lama resah karena maraknya kasus kehilangan ayam di desa tersebut. “Mereka semua merasa geram karena ayam-ayamnya bukan ayam boiler. Mereka sudah pernah kehilangan sampai ada 10 ekor, bahkan 16 ekor. Dulunya mereka mengikhlaskan saja karena pencurinya tidak kedapatkan. Warga sudah melaporkan ke pihak berwajib, tetapi hasilnya juga tidak memuaskan,” terang Riasa.
Warga Bergantung pada Ternak Ayam
Riasa mengatakan sebagian warga Banjar Juwuk Legi menggantungkan penghasilan dari beternak ayam, khususnya ayam aduan. Beberapa warga bahkan mengambil pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membeli bibit dan membiayai pemeliharaan hingga siap dijual. Karena itu, kehilangan ayam berdampak pada kondisi ekonomi para peternak, termasuk kemampuan mereka membayar pinjaman dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ayam yang dipelihara warga umumnya bernilai sekitar Rp1 juta per ekor, sementara ayam impor dapat bernilai Rp10 juta hingga Rp15 juta per ekor. “Ada masyarakat saya yang memelihara ayam tersebut dari telur sampai sudah besar, tahu-tahu hilang. Kalau dihitung kerugiannya mencapai Rp12 juta. Padahal rencananya itu (hasil jual ayam) dipakai beli sepeda motor untuk anaknya,” ungkapnya.
Desa Berharap Ada Mediasi
Atas kasus tersebut, Riasa mengatakan pihak desa berharap lima warga yang telah ditetapkan sebagai tersangka mendapat keringanan hukuman. Menurutnya, mereka merupakan tulang punggung keluarga. Pemerintah Desa Batunya juga berencana menempuh mediasi dengan keluarga korban di Desa Sidatapa, Buleleng. Langkah itu diharapkan dapat memulihkan hubungan sosial antarmasyarakat tanpa mengesampingkan proses hukum yang sedang berjalan. “Mudah-mudahan bisa kita melakukan mediasi dan hukumannya lebih diringankan, agar kita bisa saling mengisi. Artinya, warga yang dinyatakan sebagai tersangka agar bisa juga menghidupi keluarganya,” tutupnya.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Kecam Pengeroyokan Pencuri Ayam di Tabanan, Desak Usut Tuntas
Tangisan Anak di Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok: Psikolog Ungkap Dampak Traumatis
Anggota DPR Soroti Kasus Main Hakim Sendiri di Tabanan: Negara Hukum, Bukan Massa
KPAI Soroti Dampak Psikososial pada Anak Korban Pengeroyokan Ayah di Tabanan