Tangisan Anak di Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok: Psikolog Ungkap Dampak Traumatis

- Selasa, 28 Juli 2026 | 16:18 WIB
Tangisan Anak di Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok: Psikolog Ungkap Dampak Traumatis

Seorang anak perempuan berulang kali memanggil "Bapak... Bapak..." sambil menangis histeris saat prosesi pemakaman ayahnya. Video itu viral setelah sang ayah, pria berinisial IKD, meninggal dunia usai diduga dikeroyok massa karena dituduh mencuri ayam aduan di Tabanan, Bali.

Di balik tangisan yang memilukan itu, tersimpan pengalaman kehilangan yang bisa meninggalkan dampak psikologis mendalam. Psikolog Klinis Ratih Zulhaqqi, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa penjelasannya berdasarkan informasi yang beredar di publik dan bukan untuk menegakkan diagnosis terhadap anak dalam video.

"Secara psikologis, situasi seperti itu pasti menjadi pengalaman kehilangan yang sangat berat dan berpotensi traumatis," ujarnya.

Anak Kehilangan Sosok Ayah dan Rasa Aman

Menurut Ratih, bagi seorang anak, orang tua bukan hanya orang yang dicintai. Ayah dan ibu juga merupakan figur kelekatan yang memberikan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Kehilangan ayah secara mendadak dapat terasa seperti kehilangan tempat berlindung.

"Ketika anak menangis histeris sambil memanggil ayahnya, kemungkinan ia sedang mengalami campuran emosi yang sangat kuat. Ada rasa sedih, terkejut, bingung, takut, bahkan tidak percaya bahwa ayahnya benar-benar telah meninggal," jelas Ratih.

Pada kondisi ini, tubuh anak juga dapat mengalami respons stres akut. Reaksinya bisa berupa menangis tanpa henti, berteriak, gemetar, mematung, memeluk jenazah, atau terus memanggil orang tua seolah berharap mereka kembali. Pemahaman anak tentang kematian juga bergantung pada usianya. Anak yang lebih kecil sering kali belum memahami bahwa kematian bersifat permanen sehingga mereka mungkin akan terus bertanya kapan ayahnya pulang atau mengira ayahnya hanya sedang pergi.

Dampak Jangka Panjang Kehilangan Mendadak

Dalam jangka pendek, anak yang mengalami kehilangan traumatis dapat menunjukkan berbagai reaksi, seperti menangis berulang, mudah marah, bingung, diam, atau justru terlihat mati rasa. Mereka juga dapat mengalami sulit tidur, mimpi buruk, menjadi lebih sensitif, sulit berkonsentrasi, hingga mengeluhkan sakit kepala atau sakit perut.

"Namun dalam jangka panjang, kehilangan traumatis itu dapat mengganggu rasa aman anak. Anak bisa melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, sulit mempercayai orang lain, atau sangat takut kehilangan orang-orang yang masih ada di sekitarnya," kata Ratih.

Pada sebagian anak, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan, depresi, gangguan regulasi emosi, masalah perilaku, hingga gejala stres pascatrauma (PTSD). Meski demikian, Ratih menekankan bahwa tidak semua anak akan mengalami dampak tersebut karena setiap anak memiliki proses berduka yang berbeda.

Apa Itu Childhood Traumatic Grief?

Kehilangan orang tua akibat peristiwa tragis dapat berkembang menjadi Childhood Traumatic Grief, yaitu kondisi ketika trauma atas cara seseorang meninggal menghambat proses berduka anak. Dalam kondisi ini, anak bukan hanya merindukan sosok yang telah meninggal, tetapi juga terus dibayangi oleh ketakutan terhadap peristiwa kematiannya.

"Kenangan menyenangkan tentang ayah justru dapat memunculkan gambaran mengerikan, mimpi buruk, rasa bersalah, kemarahan, atau ketakutan. Akibatnya, anak bisa menghindari foto, tempat, atau pembicaraan tentang ayah karena semuanya mengingatkan pada peristiwa traumatis itu," jelasnya.

Cara Mendampingi Anak yang Kehilangan Orang Tua

Dukungan keluarga menjadi faktor paling penting agar anak dapat melalui proses berduka dengan sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan keluarga antara lain:

  • Pastikan anak didampingi oleh orang dewasa yang konsisten sehingga ia tetap merasa aman dan terlindungi.

  • Jelaskan tentang kematian menggunakan bahasa yang jujur dan sesuai usia anak. Gunakan kata "meninggal", bukan "tidur" atau "pergi", agar anak tidak bingung.

  • Validasi emosi anak, misalnya dengan mengatakan, "Kamu pasti sangat sedih dan kangen Bapak. Kami ada di sini menemani kamu."

  • Berikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, gambar, bermain, atau berdoa. Jangan memaksa anak untuk bercerita jika belum siap.

  • Pertahankan rutinitas harian, seperti makan, tidur, dan sekolah, agar anak tetap memiliki rasa aman.

  • Hindarkan anak dari tayangan video, foto, atau pemberitaan yang berulang mengenai peristiwa tragis tersebut.

  • Jaga privasi anak dan hindari menyebarluaskan video ketika ia sedang berada dalam kondisi paling rentan.

Keluarga juga perlu segera mencari bantuan profesional apabila anak terus mengalami mimpi buruk, ketakutan yang menetap, menghindari semua hal yang mengingatkan pada orang tua, tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, atau bahkan menunjukkan keinginan untuk menyusul orang yang telah meninggal.

"Dukungan keluarga yang stabil, rutinitas yang terjaga, dan pendampingan yang responsif menjadi faktor pelindung agar duka traumatis tidak berkembang menjadi PTSD," tutup Ratih.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags