PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar USD79,62 juta pada semester I 2026. Angka itu tumbuh 15,48 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan pada semester I 2026 mencapai USD235,027 juta, naik 14,7 persen dari USD204,850 juta pada semester I 2025. Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan capaian ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujar Fransetya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Total produksi PGEO sepanjang semester I 2026 mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat 13,62 persen dibandingkan 2.416 GWh pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi permodalan, ekuitas perseroan tercatat sebesar USD2,006 miliar, mencerminkan fondasi keuangan yang sehat. Sementara itu, liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan 31 Desember 2025 menjadi USD961,184 juta. Penurunan itu berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan.
Fransetya menuturkan bahwa 2026 menandai 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, warisan energi nasional yang menjadi pengingat pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk mempercepat pengembangan energi bersih di Tanah Air.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, panas bumi merupakan pilar strategis energi nasional karena sifatnya yang bersih, andal, dan baseload, sehingga cocok menopang sistem kelistrikan di tengah transisi energi.
“Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami. Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri,” kata Ahmad Yani.
Perkembangan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) juga menunjukkan arah positif. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034 menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Untuk mendukung target tersebut, PGEO menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033. Saat ini, perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW) serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.
Dengan mengelola sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGEO optimistis menjadi pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Artikel Terkait
Map Active Cetak Laba Bersih Rp865 Miliar pada Semester I-2026, Tumbuh 32 Persen
Mitra Adiperkasa Cetak Laba Rp1,5 Triliun di Semester I-2026, Naik 27 Persen
GoTo Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Berturut-turut, Fintech Kini Jadi Motor Utama
Laba Dyandra Media Melonjak 122 Persen Jadi Rp42,7 Miliar pada Semester I-2026