Ancaman pembunuhan terhadap para tersangka kerusuhan Matraman di dalam penjara beredar di media sosial. Meski tidak membenarkan aksi anarkis yang menewaskan seorang pemuda asal Ambon dalam bentrokan dengan warga Matraman, peristiwa ini layak dijadikan bahan introspeksi bagi siapa pun yang berada di perantauan.
Korban meninggal bukan karena suku, warna kulit, atau agamanya. Pemicu kerusuhan sudah diketahui dari banyak saksi dan video: awalnya soal gangguan ketertiban lingkungan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan massa. Ketika situasi berubah menjadi kerusuhan, tindakan yang semula mungkin tidak diniatkan untuk menghilangkan nyawa bisa berakhir menjadi tragedi yang tidak terkendali.
Dari yang awalnya menggeber-geber motor di kampung orang, tidak menerima teguran warga, kemudian kembali dengan membawa kelompok dan membuat onar melakukan kekerasan dan merusak gerobak milik warga harus disadari itu tindakan yang sangat berpotensi memancing reaksi keras dari masyarakat setempat.
Introspeksilah. Kemarahan warga bukan otomatis karena soal suku, ras, warna kulit, atau agama. Kemarahan mereka karena perilaku yang dianggap mengancam keamanan dan ketertiban lingkungan. Kebetulan yang berhadapan adalah warga Matraman, kawasan yang sejak dulu terkenal dengan sejarah konflik antarkelompok, di mana gesekan kecil saja bisa berubah menjadi bentrokan besar.
Jangan playing victim, seolah kejadian ini semata-mata karena kebencian pada identitas tertentu. Jadikan introspeksi bagi kita semua: jangan arogan dan merasa berkuasa, apalagi di kampung orang.
Artikel Terkait
Bentrokan Maut di Matraman Berakhir Damai, Polisi Tetap Proses Hukum Tersangka
Bentrokan Maut di Menteng Berakhir Damai, Polisi Tetapkan 7 Tersangka
Pasca Bentrokan di Matraman, Polisi Tetapkan Tujuh Tersangka
Warga Ambon Temukan Bom Peninggalan Perang di Depan Rumah, Tim Gegana Turun Tangan