Pendidikan di Era Cair: Membentuk Manusia Bertanggung Jawab di Tengah Ketidakpastian

- Senin, 27 Juli 2026 | 18:40 WIB
Pendidikan di Era Cair: Membentuk Manusia Bertanggung Jawab di Tengah Ketidakpastian

Dunia yang diwarisi anak-anak Indonesia hari ini bukan lagi dunia yang menjanjikan kepastian. Kecerdasan buatan, otomatisasi, media sosial, dan ekonomi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, bahkan membangun relasi. Profesi yang kini menjanjikan bisa lenyap dalam beberapa tahun. Keterampilan yang dipelajari di bangku sekolah cepat usang. Ijazah yang diperoleh hari ini belum tentu relevan dengan kebutuhan dunia kerja di masa depan.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai liquid modernity masyarakat yang berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia membangun kebiasaan dan kepastian.

Tantangan pendidikan Indonesia, menurut data, tak lagi semata akses sekolah, melainkan kualitas pembelajaran dan pembentukan manusia. Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata OECD. Hanya sekitar 25 persen siswa mencapai tingkat kompetensi minimum dalam membaca, dan 18 persen dalam matematika. Namun, sebagian besar siswa mengaku memiliki rasa keterikatan terhadap sekolah yang cukup tinggi. Ini menandakan bahwa persoalan bukan hanya membuat anak datang ke sekolah, melainkan memastikan sekolah benar-benar menjadi ruang pembentukan manusia.

Bukan Hanya Bertahan

Dalam situasi ini, muncul kecenderungan menjadikan adaptasi sebagai tujuan utama pendidikan. Anak-anak didorong menguasai teknologi baru, menggunakan AI, berpikir fleksibel, dan siap menghadapi perubahan. Semua itu penting. Namun, jika pendidikan berhenti pada kemampuan beradaptasi, kita baru menyelesaikan separuh persoalan.

Bauman mengingatkan bahwa modernitas cair tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga budaya keterbuangan. Yang dibuang bukan hanya barang, melainkan pekerjaan, relasi, bahkan manusia yang dianggap tak lagi relevan. Logika konsumsi merembes ke kehidupan sosial: yang lama diganti, yang lambat ditinggalkan, yang tidak produktif disisihkan.

Pertanyaan pendidikan pun berubah. Bukan lagi "Bagaimana anak mampu bertahan dalam perubahan?", melainkan "Bagaimana anak tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab ketika segala sesuatu terus berubah?"

Di sinilah pemikiran Bauman bertemu dengan filsafat pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara, dan Mochtar Lubis. Ki Hadjar menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha menuntun segala kekuatan kodrat pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan bukan sekadar mempersiapkan tenaga kerja, melainkan membentuk manusia. Kemampuan beradaptasi penting, tetapi harus diarahkan oleh tujuan yang lebih luhur: pembentukan karakter dan kemanusiaan.

Gagasan itu diperdalam Driyarkara, yang memandang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia muda. Bukan mengisi kepala dengan informasi, melainkan membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas dirinya dan sesama. Manusia tidak pernah menjadi manusia sendirian; ia menjadi manusia melalui relasi, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.

Pandangan serupa tampak dalam pemikiran Mochtar Lubis. Dalam pidato Manusia Indonesia, ia mengkritik kecenderungan mengagungkan keberhasilan lahiriah namun mengabaikan integritas. Kritik itu tetap relevan di era digital. Bangsa ini tidak kekurangan anak cerdas, tetapi masih membutuhkan lebih banyak warga yang jujur, berani, dan bertanggung jawab.

Membentuk Manusia Bertanggung Jawab

Tantangan pendidikan Indonesia bukan memilih antara karakter atau kompetensi, melainkan menyatukan keduanya. Anak-anak perlu menguasai AI, tetapi juga belajar menggunakannya secara etis. Mereka perlu berpikir kreatif, tetapi juga menghargai martabat manusia. Mereka harus siap berpindah profesi beberapa kali, tetapi tidak berpindah nilai setiap kali keadaan berubah.

Data PISA juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di Indonesia relatif terjaga, bahkan meningkat dibanding 2018. Sekitar 43 persen siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa setidaknya separuh orang tua aktif berdiskusi dengan guru tentang perkembangan belajar anak. Ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dibebankan hanya pada sekolah; keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan yang menentukan.

Agenda pendidikan Indonesia ke depan tidak cukup hanya memperkuat literasi, numerasi, atau kecakapan digital. Pendidikan juga harus memperkuat literasi moral: kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab di tengah ketidakpastian. Di era AI, ketika jawaban bisa diperoleh dalam hitungan detik, yang langka bukan informasi, melainkan kebijaksanaan menggunakannya demi kebaikan bersama.

Bauman mengajarkan bahwa dunia akan semakin cair. Kita mungkin tak bisa mengembalikan kepastian yang dimiliki generasi sebelumnya. Namun, kita masih bisa memilih nilai-nilai yang menjadi jangkar ketika segala sesuatu berubah: kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab. Mungkin di situlah tugas pendidikan Indonesia pada abad ke-21: bukan menjanjikan masa depan yang pasti, melainkan membentuk anak-anak yang mampu menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan tanggung jawabnya sebagai manusia. Sebab, ketika dunia menjadi semakin cair, justru tanggung jawab terhadap sesama menjadi fondasi yang menjaga agar perubahan tidak mengikis kemanusiaan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags