Khotbah Jumat: Tiga Benteng Pertahanan Keluarga dari Ancaman Zaman

- Senin, 27 Juli 2026 | 08:50 WIB
Khotbah Jumat: Tiga Benteng Pertahanan Keluarga dari Ancaman Zaman

Di tengah arus zaman yang semakin deras, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat menghadapi ancaman yang tidak lagi datang dari luar rumah, melainkan telah menyusup lewat gawai di tangan anak-anak. Khotbah Jumat kali ini mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah yang suci, namun lingkungan yang rusak secara terstruktur perlahan mengikis nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka.

Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Orang tua adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa anak-anak tumbuh di tengah sistem pergaulan yang tidak ramah. Sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, sementara paham kebebasan yang kebablasan mempromosikan gaya hidup menyimpang melalui musik, film, dan media sosial. Gim daring dan judi daring pun turut merusak mental generasi muda.

Masyarakat perlahan kehilangan kepedulian. Budaya amar ma'ruf nahi munkar digantikan oleh sikap acuh tak acuh dengan anggapan "yang penting bukan anak saya". Padahal, ketika lingkungan telah membusuk, pembusukan itu hanya menunggu waktu merembet ke dalam rumah.

Islam tidak membiarkan umatnya bertarung sendirian. Agama ini menawarkan tiga pilar pertahanan yang utuh dan sistematis. Benteng pertama adalah ketahanan keluarga dan penanaman tauhid. Luqman al-Hakim menjadi teladan: nasihat pertama untuk anaknya bukanlah tentang materi, melainkan larangan syirik. Orang tua harus menanamkan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, sehingga anak tetap takut bermaksiat meski sendirian.

Benteng kedua adalah kontrol sosial. Masyarakat harus berani menegur kemungkaran dan mendukung kebaikan. Tanpa kepedulian kolektif, upaya individu akan sia-sia.

Benteng ketiga adalah peran negara. Dalam Islam, pemimpin adalah perisai yang wajib membendung tontonan merusak moral, melarang propaganda penyimpangan, dan menyusun sistem pendidikan berbasis akidah dan akhlak.

Khotbah ini juga menyentuh sisi emosional dengan menggambarkan skenario di akhirat: seorang anak yang dulu diberi fasilitas mewah justru menyeret ayahnya ke neraka karena lalai mendidik. Allah berfirman dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

Sebelum penyesalan datang, para orang tua diajak untuk kembali ke rumah dengan pandangan baru. Ketuklah pintu kamar anak, tatap mata mereka, peluk, dan minta maaf atas kelalaian. Bimbing jemari mereka untuk bersujud, perbaiki salat, dan bangun rumah tangga di atas rida Allah agar kelak dapat berkumpul di surga.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags