Indonesia tidak kekurangan universitas. Justru sebaliknya, jumlah perguruan tinggi di Tanah Air sudah terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Data menunjukkan, satu kampus di Indonesia melayani rata-rata 86.000 penduduk, sementara di negara maju angkanya di atas 100.000. Artinya, rasio kampus per penduduk di Indonesia justru lebih tinggi.
Penulis Tere Liye dalam tulisannya mengkritik kebijakan pemerintah yang berencana menambah universitas baru. Menurutnya, langkah itu tidak tepat di tengah menurunnya jumlah penduduk usia sekolah. Ia mencontohkan, sekolah dasar saat ini sudah banyak yang kekurangan murid.
Yang seharusnya dilakukan pemerintah, kata Tere Liye, adalah fokus memperbaiki kualitas kampus yang sudah ada. Merger, penggabungan, dan peningkatan mutu menjadi kampus-kampus top harus menjadi prioritas. Bukan malah membangun yang baru.
Ia juga menyoroti motif di balik rencana penambahan universitas baru. "Proyek," tulisnya singkat. Menurut dia, ketika pemerintah tidak mampu menyelesaikan masalah seperti kenaikan UKT, IPI yang menggila, dan biaya kuliah yang melonjak, maka solusinya adalah membuat yang baru. Universitas baru hanya akan dinikmati kurang dari satu persen mahasiswa, sementara 99 persen lainnya harus berjuang dengan biaya kuliah yang tinggi.
Tere Liye membandingkan dengan alokasi anggaran. Jika pemerintah serius, uang negara bisa dialokasikan untuk 10 kampus terbaik masing-masing Rp2 triliun per tahun. Dengan begitu, UKT dan IPI bisa dihapus, riset meningkat, dan semuanya naik. Namun, ia menduga hal itu tidak dilakukan karena tidak ada proyek pembangunan gedung baru, tidak ada bancakan jabatan, dan tidak ada anggaran untuk perlengkapan seperti kaos kaki, seragam, atau motor listrik.
Artikel Terkait
Argentina Jadi Contoh Nyata Propaganda Israel, Bisakah Indonesia Bernasib Sama?
Menkeu Purbaya Tolak IKN Jadi Pusat Finansial Internasional: Tempatnya Terlalu Sepi
Penulis Tere Liye Bantah Dikotak-kotakkan soal Bola, Soroti Dukungan Argentina ke Israel
Tere Liye Sindir Sederet Alasan Klise dalam Kasus Korupsi Besar