Pendeta Florida Gugat OpenAI karena Saran Medis ChatGPT yang Hampir Merenggut Nyawanya

- Minggu, 26 Juli 2026 | 19:42 WIB
Pendeta Florida Gugat OpenAI karena Saran Medis ChatGPT yang Hampir Merenggut Nyawanya

Seorang pendeta asal Florida, Amerika Serikat, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman setelah ia mengaku hampir kehilangan nyawa akibat mengikuti saran medis yang keliru dari ChatGPT. Pria bernama Scott Winters itu mengalami emboli paru yang diduga dipicu oleh kurangnya pergerakan, sebagaimana disarankan oleh chatbot tersebut.

Gugatan diajukan ke pengadilan negara bagian California di San Francisco pada 22 Juli 2026. Winters mengeklaim bahwa jawaban dari GPT-4o, model AI lama yang kini sudah dihentikan OpenAI, membuatnya menunda mencari pertolongan medis.

Menurut dokumen gugatan, Winters menggunakan ChatGPT untuk berkonsultasi mengenai keluhan pusing berulang pada tahun lalu. Chatbot tersebut menyarankannya membatasi aktivitas fisik dan tetap berada di rumah. Ketika Winters menanyakan rasa nyeri bila ditekan di bagian selangkangan, ChatGPT menjawab bahwa kondisi itu kemungkinan bukan sesuatu yang berbahaya.

Sehari setelah konsultasi itu, Winters harus menjalani perawatan di rumah sakit. Rasa nyeri tersebut ternyata menjadi tanda adanya pembekuan darah yang berkaitan dengan emboli paru. Dokter menyebut kondisi itu kemungkinan dipicu oleh kurangnya pergerakan, sebagaimana tercantum dalam gugatan.

Emboli paru terjadi ketika pembuluh darah di paru-paru tersumbat, umumnya oleh gumpalan darah, dan dapat mengancam nyawa.

Dalam beberapa bulan sebelum emboli terjadi, Winters kerap membagikan diagnosis dan hasil pemeriksaan medisnya kepada ChatGPT. Chatbot kemudian memberikan rencana perawatan holistik dan menggunakan bahasa bernuansa pelayanan Kristen untuk mempertahankan keterlibatan pengguna. "Bahkan ini dalam pengawasan Tuhan," kata ChatGPT kepada Winters, menurut dokumen gugatan.

Pada awal percakapan, chatbot masih menyarankan Winters berkonsultasi dengan tenaga medis. Namun, peringatan tersebut tidak lagi muncul dalam respons berikutnya. Gugatan juga mengeklaim ChatGPT tetap menyarankan Winters tinggal di rumah setelah ia keluar dari rumah sakit, bahkan mendorongnya menghindari program rehabilitasi yang telah direkomendasikan dokter.

OpenAI: ChatGPT Bukan Dokter

Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan percaya percakapan berbasis AI dapat membantu layanan kesehatan. Namun, ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti layanan medis. "Memperlakukan chatbot sebagai satu-satunya penyebab di balik keputusan atau hasil medis seseorang terlalu menyederhanakan tantangan yang jauh lebih besar," ujar Pusateri. Menurutnya, pendekatan tersebut juga berisiko menghambat masyarakat mengakses perangkat baru yang dapat membantu perjalanan kesehatan mereka.

Winters meminta ganti rugi dan meminta pengadilan agar OpenAI mengambil langkah menyetop percakapan ketika pengguna membutuhkan pertolongan medis segera. Ia juga meminta pengadilan menunda peluncuran ChatGPT 4o Health sampai pihak ketiga menyelesaikan audit keamanan. Produk kesehatan tersebut memungkinkan pengguna mengunggah rekam medis dan menerima saran kesehatan yang dipersonalisasi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags