Seorang misionaris dan seorang dai Muslim terlibat dalam dialog singkat yang mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan terjemahan dalam beberapa salinan Al-Quran, ajaran-ajaran pokoknya tetap konsisten. Percakapan ini menyoroti pentingnya memahami konteks ayat-ayat tertentu yang sering disalahartikan.
Dalam dialog tersebut, sang misionaris mengaku memiliki empat salinan Al-Quran dengan interpretasi yang berbeda. Namun, ketika ditanya oleh dai Muslim, ia mengakui bahwa keempat salinan itu sepakat tentang keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad sebagai nabi terakhir. Dai Muslim kemudian menanyakan tentang ajaran moral seperti menghormati orang tua, berziarah, dan larangan berbohong, menipu, serta mencuri. Misionaris membenarkan bahwa semua salinan mengandung ajaran-ajaran tersebut.
Namun, ketika dai Muslim menyinggung soal perintah membunuh orang kafir, misionaris menjawab bahwa semua salinan mengatakan "penggal kepala orang kafir." Dai Muslim kemudian mempertanyakan apakah misionaris mengetahui ayat sebelumnya yang memberikan konteks perang. Misionaris mengaku tidak tahu. Dai Muslim menjelaskan bahwa ayat sebelumnya memberikan konteks perang, dan ayat setelahnya menegaskan bahwa jika seseorang tidak memerangi Anda, janganlah berperang dengannya.
Dialog ini menekankan pentingnya membaca Al-Quran secara utuh dan memahami konteks ayat-ayatnya, bukan hanya mengambil potongan ayat secara terpisah. Perbedaan terjemahan antar salinan tidak mengubah inti ajaran Islam yang menekankan perdamaian dan keadilan.
Artikel Terkait
Forum Dialog Perusahaan dan Masyarakat Adat di Nabire Bahas Kesejahteraan dan Hunian Layak