Serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pekan lalu menewaskan tiga prajurit Amerika Serikat dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini menjadi sorotan karena menunjukkan kemampuan rudal Iran yang semakin canggih, bahkan mampu menembus sistem pertahanan udara AS dan sekutunya.
Dua dari tiga korban tewas telah teridentifikasi, sementara satu personel yang sempat dinyatakan hilang kemudian dipastikan meninggal akibat rudal balistik tersebut. Selain korban jiwa, serangan itu juga melukai empat orang, meskipun laporan menyebutkan jumlah korban luka bisa mencapai puluhan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui bahwa satu rudal Iran berhasil lolos dari pencegatan. "Sebuah rudal berhasil lolos. Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu rudal luput, ini sangat menyedihkan," ujarnya.
Serangan ini bukan insiden terisolasi. Pangkalan militer yang sama telah diserang dua kali dalam 48 jam, menyebabkan puluhan personel terluka. Rudal berpemandu presisi Iran berulang kali menembus pertahanan rudal Yordania dan AS.
Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom) Tim Hawkins mengklaim pasukannya dan sekutunya telah mencegat puluhan rudal dan drone Iran sejak 17 Juli. Namun, ia mengakui tidak semua bisa dicegat.
Presiden AS Donald Trump menyalahkan pihak lain atas lolosnya rudal tersebut. Ia menuding ada operator lain di pangkalan udara yang membiarkan rudal itu lolos. "Mereka (Iran) memang menyelundupkan sesuatu di Yordania, dan kita ada operator lain," ujarnya, menuduh adanya musuh dalam selimut.
Trump mengeklaim AS memiliki peralatan tempur terbaik di dunia yang mampu mencegat berbagai rudal, tetapi peralatan itu tidak dioperasikan oleh personel AS. "Kita membiarkan orang lain melakukan tugas itu dan terkadang hasilnya tidak begitu baik," katanya tanpa menyebut operator yang dimaksud.
Departemen Pertahanan (Pentagon) mengonfirmasi hampir 100 personel militer AS terluka dalam serangan Iran di seluruh Timur Tengah sepanjang bulan ini, belum termasuk serangan mematikan di Yordania.
Pengamat militer Yordania, Qasid Mahmoud, mantan pejabat tinggi, mengaitkan efektivitas serangan Iran dengan peningkatan teknologi rudal. "Iran memiliki teknologi rudal yang canggih," katanya. Ia menjelaskan Iran menggabungkan rudal dan drone secara bersamaan untuk mengelabui pertahanan udara. Selain itu, Iran menggunakan rudal murah sebagai pengalih perhatian radar, lalu menembakkan rudal berkualitas lebih baik yang mampu mengubah target akhir dalam jarak 30 atau 40 km. Perubahan lintasan di menit-menit terakhir itu membuat sistem pertahanan sulit mencegatnya.
Artikel Terkait
Trump Ancam Bom Infrastruktur Iran Jika Kapal AS Ditembaki di Selat Hormuz
Serangan AS ke Iran Tewaskan 53 Orang, Ratusan Luka-luka
Kemenangan Tipis Al-Hayya: Pertarungan Dua Kubu di Hamas
Jateng Jajaki Kerja Sama dengan Iran di Berbagai Sektor