Iran menyatakan kesiapannya menghadapi perang darat melawan Amerika Serikat. Militer Iran bahkan memperingatkan akan mengebom wilayahnya sendiri daripada membiarkan pasukan AS merebutnya. Pernyataan tegas ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang memicu kekhawatiran akan konflik lebih luas di Teluk Arab.
"Jika Amerika menduduki wilayah kami, kami bahkan akan mengebom wilayah sendiri. Ini adalah logika perang," kata juru bicara militer Iran, Brigjen Mohammad Akrami Nia, dalam pernyataan di stasiun televisi pemerintah, Rabu (22/7/2026).
Laporan dari The Washington Post, mengutip seorang pejabat AS, menyebutkan Pentagon tengah menyiapkan opsi operasi darat terbatas di Iran, bukan invasi penuh. Operasi itu bisa melibatkan ribuan personel dan berlangsung beberapa pekan hingga bulan. Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa opsi tersebut belum tentu disetujui Presiden Donald Trump. "Ini bukan berarti presiden telah membuat keputusan," demikian pernyataan resmi Gedung Putih.
Trump diperkirakan akan mengambil keputusan dalam beberapa hari ke depan mengenai kelanjutan perang, termasuk prospek operasi darat atau perebutan wilayah Iran.
Tokoh Iran Usulkan Langkah Lebih Keras
Mantan Menteri Luar Negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen, Manouchehr Mottaki, mendesak respons yang lebih agresif. Menurutnya, Iran tidak cukup hanya menyerang pangkalan AS di Timur Tengah, tetapi harus menangkap tentara AS. "Ancaman AS telah meningkat, dan mereka telah mengatakan akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak Iran. Saya telah lama menganjurkan perang darat. Kita harus merebut salah satu pangkalan AS di kawasan, menangkap pasukannya, dan membawa mereka ke negara kita," ujarnya.
Anggota parlemen lainnya, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menambahkan bahwa Iran bisa melancarkan serangan darat ke Kuwait dan Bahrain jika AS menginvasi. Mengenai kemungkinan serangan ke Pulau Kharg, ia mengatakan AS mungkin bisa menguasainya selama sehari, tetapi tidak akan mampu mempertahankannya. "Rudal Iran dari Semnan, Zahedan, Isfahan, dan tempat lain dapat mencapainya. Menduduki Pulau Kharg akan menjadikannya target bagi Iran," katanya.
Spekulasi juga berkembang soal kemungkinan langkah Iran terhadap Kuwait, termasuk Pulau Bubiyan, pulau terbesar Kuwait seluas 863 km persegi yang terletak di ujung utara Teluk Persia dekat Irak. Beberapa tokoh politik Iran telah mempertimbangkan skenario itu sebagai respons terhadap potensi perebutan Kharg oleh AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) disebut bisa memanfaatkan kelompok proksi di kawasan serta unit pasukan khusus Saberin untuk melancarkan operasi darat melalui Irak selatan jika AS bergerak ke wilayah Iran. Unit Saberin adalah pasukan elite IRGC dengan pengalaman tempur luas di Iran dan negara-negara tetangga. Laporan tentang pergerakan militer Iran menuju perbatasan Kuwait telah beredar di media sosial, namun belum dapat diverifikasi secara independen. Sejumlah laporan pada Maret dan Mei menyebutkan komando IRGC menargetkan Bubiyan hingga terlibat pertempuran dengan pasukan Kuwait.
Artikel Terkait
Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp 671 Triliun, Pentagon Minta Tambahan Anggaran
Menteri Pertahanan AS Beberkan Biaya Perang Melawan Iran Capai Rp 671 Triliun
Harga Emas Dunia Menguat Lebih dari 1 Persen, Didorong Harapan Gencatan Senjata AS-Iran
AS Keluarkan Peringatan Global Buntut Perang Lawan Iran, Perkembangannya Bisa Tak Terduga