Kritik Tajam untuk Program MBG: Penggunaan Uang Rakyat Dipertanyakan

- Selasa, 21 Juli 2026 | 16:40 WIB
Kritik Tajam untuk Program MBG: Penggunaan Uang Rakyat Dipertanyakan

Seorang pengamat kebijakan publik melontarkan kritik pedas terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai program unggulan pemerintah. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa program tersebut tidak lebih dari proyek politik yang menguras anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah, sementara rakyat justru dibebani pajak untuk membiayainya.

“Anda tidak memberi makan gratis. Anda bukan Sinterklas, juga bukan tokoh kartun dengan kantung ajaib. Anda tidak mengeluarkan serupiah pun uang pribadi anda untuk program MBG,” tulisnya. Ia menekankan bahwa uang yang digunakan berasal dari pajak rakyat yang dibayarkan setiap kali membeli kebutuhan sehari-hari seperti mi instan, minyak goreng, beras, pulsa, dan lainnya.

Kritik ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan pejabat yang merasa diserang oleh publik. Menurut sang pengamat, keluhan tersebut tidak relevan karena yang terjadi adalah publik menagih pertanggungjawaban atas penggunaan uang mereka. “Anda justru harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang kami. Anda memilih orang-orang kepercayaan untuk menjalankan program anda, dan program itu berantakan karena orang-orang kepercayaan anda korup,” tegasnya.

Ia juga menyoroti logika yang digunakan pejabat tersebut yang mengungkit kebocoran triliunan rupiah di pelabuhan akibat under-invoicing sebagai pembenaran. “Hanya karena ada maling yang belum tertangkap di pelabuhan sana, kami harus membiarkan saja maling lain menjarah rumah kami? Apakah kami harus diam melihat gejala korupsi, karut-marut tata kelola, vendor-vendor ‘titipan’ bergentayangan di program MBG kesayangan anda?” tanyanya retoris.

Pengamat itu mengingatkan agar para pejabat berhenti berakting sebagai martir dan fokus pada tata kelola yang baik. “Kami hanya sedang menagih struk belanja dari uang yang anda ambil dari dompet kami. Kami ingin tahu berapa harga normal kipas angin, berapa harga normal sepatu, berapa harga normal pigura, berapa harga normal ompreng, berapa harga normal mobil pikap dari India,” ujarnya.

Ia menutup dengan sindiran pedas: “Oya, jika anda betulan ingin mengawasi kami dari antariksa, kami sangat senang. Kapan rencananya?”

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags