Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan hanya menjadi ajang pertarungan tim-tim sepak bola terbaik dunia. Bagi sejumlah perempuan lajang di Amerika Serikat, turnamen ini telah menjelma menjadi panggung sosial yang dinanti-nantikan sebuah kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan sekaligus membuka peluang menemukan pasangan hidup. Antusiasme ini sudah terlihat jauh sebelum kick-off, dengan banyak di antara mereka yang rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli tiket pertandingan dan menghadiri berbagai acara pendukung demi bertemu penggemar sepak bola dari berbagai negara.
Dee Vel-Baque, seorang warga yang tinggal di dekat Stadion MetLife salah satu venue Piala Dunia 2026 mengaku sangat antusias. Ia telah menyiapkan diri untuk menyelami seluruh rangkaian acara yang digelar selama turnamen berlangsung.
"Piala Dunia sudah dimulai. Ada begitu banyak acara di New York dan New Jersey, banyak pesta dan aktivitas untuk warga lokal maupun orang yang datang untuk pertandingan," kata Vel-Baque.
Menurutnya, ajang ini secara langsung memperluas peluang untuk berkenalan dengan orang baru. Vel-Baque bahkan telah membeli tiket untuk sedikitnya empat pertandingan selama turnamen berlangsung, sebuah investasi yang ia anggap sepadan dengan pengalaman sosial yang akan didapatkan.
Kisah serupa datang dari Natalie, seorang kreator konten asal Los Angeles. Ia mengaku sudah mulai menabung sejak Amerika Serikat resmi ditetapkan sebagai tuan rumah. Strategi finansial yang ia terapkan terbilang jangka panjang dan terencana.
"Saya punya keuntungan karena sudah berinvestasi. Begitu tahu Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia, saya langsung mulai menabung untuk membeli tiket," ujarnya.
Natalie berencana menghadiri sejumlah pertandingan di berbagai kota serta mengikuti acara FIFA Fan Fest. Untuk tiket pertandingan saja, ia menghabiskan sekitar 2.000 dollar AS, belum termasuk biaya perjalanan dan penginapan yang tentu tidak sedikit.
Fenomena ini tidak berhenti pada persiapan fisik dan finansial. Karen Gutierrez dari Dallas melihat Piala Dunia sebagai momentum untuk mengoptimalkan peluang pertemuan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ia bahkan kembali mengaktifkan aplikasi kencan seperti Hinge, Bumble, dan Tinder setelah lama tidak digunakan.
"Saya memperbarui profil dengan foto-foto musim panas terbaru dan foto saat mengenakan jersey tim nasional Amerika Serikat serta Meksiko," katanya.
Menurut Gutierrez, atmosfer Piala Dunia membuat proses berkenalan terasa lebih menyenangkan dibanding pengalaman kencan daring yang biasa dijalaninya. Suasana pesta dan kebersamaan menciptakan konteks yang lebih alami untuk memulai percakapan.
Pat Morad, penggemar tim nasional Kolombia yang tinggal di Chicago, juga memanfaatkan turnamen ini untuk bertemu sesama pencinta sepak bola dari berbagai negara. Baginya, proses mencari pasangan di usia 30-an sering kali terasa monoton karena harus berulang kali menggunakan aplikasi kencan.
"Berkencan di usia 30-an itu membosankan. Masuk aplikasi, menghapusnya, lalu kembali lagi bukan sesuatu yang ditunggu-tunggu orang," ujarnya.
Morad menambahkan bahwa suasana Piala Dunia memberikan pengalaman yang berbeda. "Tapi ketika dikaitkan dengan sesuatu yang menyenangkan seperti Piala Dunia, semuanya terasa lebih seru, apa pun hasilnya," katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi sepak bola, tetapi juga ruang pertemuan bagi jutaan orang dari berbagai negara. Selain menikmati pertandingan, banyak pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk membangun pertemanan baru, memperluas relasi, hingga membuka peluang menemukan pasangan di tengah kemeriahan pesta sepak bola dunia.
Artikel Terkait
Larissa Chou Resmi Gugat Cerai Ikram Rosadi ke Pengadilan Agama
KPK Siap Lelang 25 Kendaraan Mewah Hasil Sitaan Kasus Korupsi K3 di Kemenaker, Termasuk Ducati dan Nissan GT-R
Paris Larang Minum Alkohol di Ruang Publik saat Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Capai 40,9 Derajat Celsius
Pemerhati Politik Sebut Prabowo Jokowi Palsu, Kritik Ijazah hingga Relasi Kekuasaan