Jakarta akan segera menapaki usia setengah milenium, sebuah tonggak sejarah yang hanya dilewati oleh segelintir kota di dunia yang masih bertahan sebagai pusat politik, ekonomi, budaya, dan transformasi digital sebuah bangsa. Namun, di balik pencapaian monumental ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan: apakah kita tengah sibuk membangun infrastruktur kota, atau justru lupa membangun manusianya?
Sejarah mencatat, sebuah metropolis dapat dipenuhi gedung pencakar langit, jalan tol bertingkat, jaringan internet tercepat, hingga kecerdasan buatan. Namun, pada saat yang sama, kota tersebut justru bisa kehilangan elemen paling esensial: rasa saling percaya, rasa memiliki, dan harapan. Paradoks inilah yang kini dihadapi hampir semua kota besar di dunia, tak terkecuali Jakarta.
Selama puluhan tahun, keberhasilan sebuah kota selalu diukur melalui angka-angka fisik: panjang jalan yang dibangun, nilai investasi yang masuk, persentase pertumbuhan ekonomi, atau jumlah gedung bertingkat yang menjulang. Seluruh indikator itu memang penting. Akan tetapi, penelitian internasional menunjukkan bahwa parameter tersebut tidak lagi cukup untuk menjelaskan kualitas hidup masyarakat. Semakin modern sebuah kota, belum tentu semakin bahagia penduduknya.
Sebuah studi lintas negara yang melibatkan lebih dari 70 negara melalui World Values Survey menemukan pola yang konsisten. Penduduk kota-kota besar sering kali tidak lebih bahagia dibandingkan mereka yang tinggal di kota kecil atau wilayah pedesaan. Fenomena ini dikenal sebagai paradoks kebahagiaan perkotaan (urban happiness paradox), di mana kemajuan ekonomi tidak otomatis diikuti oleh peningkatan kesejahteraan psikologis. Penyebabnya sederhana: manusia tidak hanya membutuhkan pendapatan, melainkan juga hubungan, kepercayaan, makna, dan komunitas.
Jika diminta menyebut ancaman terbesar Jakarta lima puluh tahun mendatang, jawabannya mungkin berbeda dari dugaan banyak orang. Bukan banjir, kemacetan, atau perubahan iklim, melainkan krisis keterhubungan antarmanusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan kesepian (loneliness) sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat global. Ironisnya, fenomena ini justru paling banyak muncul di kota-kota besar. Orang tinggal berdampingan di apartemen yang sama, naik moda transportasi yang sama, dan bekerja di gedung yang sama, tetapi sayangnya tidak saling mengenal. Media sosial memperlihatkan ribuan teman, namun ketika seseorang mengalami krisis, belum tentu ada satu orang pun yang benar-benar datang mengetuk pintunya. Kota yang padat belum tentu menghadirkan kedekatan.
Lima ratus tahun pertama Jakarta dibentuk oleh pelabuhan, perdagangan, kolonialisme, kemerdekaan, industrialisasi, dan urbanisasi. Lima ratus tahun berikutnya akan dibentuk oleh sesuatu yang sama sekali berbeda: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah kota harus belajar hidup berdampingan dengan algoritma. AI akan membantu memprediksi banjir, mengatur lalu lintas, mengelola layanan kesehatan, dan menyusun kebijakan berbasis data. Namun, AI juga membawa risiko baru, seperti disinformasi, polarisasi, bias algoritma, dan kesenjangan digital.
Karena itu, cita-cita Jakarta tidak boleh berhenti pada konsep Smart City. Semua kota besar ingin menjadi Smart City, maka yang akan membedakan Jakarta adalah kemampuannya menjadi Wise City kota yang menggunakan teknologi untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Robert Putnam, salah satu ilmuwan sosial paling berpengaruh di dunia, memperkenalkan konsep modal sosial (social capital). Kesimpulannya sederhana namun kuat: negara dan kota yang memiliki tingkat kepercayaan sosial tinggi cenderung lebih aman, lebih sehat, lebih produktif, dan lebih sejahtera. Artinya, modal terbesar sebuah kota bukanlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), investasi, atau gedung, melainkan kepercayaan antarwarganya.
Jalan raya menghubungkan tempat, namun kepercayaanlah yang menghubungkan manusia. Kota tanpa kepercayaan akan selalu membayar biaya sosial yang jauh lebih mahal. Sementara itu, dalam konteks perubahan iklim, Jakarta memang berbicara tentang banjir, rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan permukaan laut. Namun, sesungguhnya perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan keadilan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa masyarakat kampung dan kelompok berpenghasilan rendah sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh banjir, penurunan tanah, dan kebijakan relokasi. Ironisnya, mereka bukanlah kelompok yang paling banyak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Di sisi lain, komunitas-komunitas tersebut justru memperlihatkan solidaritas dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa ketika menghadapi krisis. Ukuran kota yang berhasil bukan hanya seberapa cepat banjir surut, tetapi juga seberapa adil kota melindungi mereka yang paling rentan.
Kota-kota yang hari ini menjadi rujukan dunia memiliki satu kesamaan: mereka tidak lagi hanya membangun infrastruktur, melainkan membangun kehidupan. Di Kopenhagen, ruang publik dirancang agar orang lebih banyak berjalan kaki, bersepeda, dan berinteraksi. Di Paris, berkembang konsep 15-Minute City, di mana kebutuhan dasar warga dapat dijangkau dalam waktu lima belas menit. Di Singapura, ruang hijau bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan bagian dari strategi kesehatan masyarakat. Di Seoul, pemerintah membuka kembali Sungai Cheonggyecheon yang sebelumnya tertutup jalan layang. Dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih baik, tetapi juga meningkatnya aktivitas ekonomi, kualitas udara, dan interaksi sosial. Pelajaran besarnya sederhana: kota terbaik di dunia tidak hanya memikirkan kendaraan, melainkan memikirkan manusia.
Sudah saatnya Jakarta memiliki indikator yang lebih berani daripada sekadar pertumbuhan ekonomi. Sebuah indeks kemakmuran Jakarta (Jakarta Flourishing Index) dapat menjadi acuan baru. Indikator ini tidak hanya mengukur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau investasi, tetapi juga tingkat kepercayaan sosial, kesehatan mental warga, rasa aman perempuan dan anak, kualitas ruang hijau, partisipasi masyarakat, literasi digital, rasa memiliki terhadap kota, peluang generasi muda, kesiapan menghadapi AI, dan optimisme terhadap masa depan. Apa yang kita ukur akan menentukan apa yang kita prioritaskan.
Selama ini kita sering menggunakan istilah livable city atau kota layak huni. Namun, Jakarta harus melangkah lebih jauh menjadi kota yang layak dicintai. Kota yang membuat anak muda memilih tetap berkarya, lansia merasa dihargai, perempuan merasa aman, dan penyandang disabilitas merasa setara. Kota yang membuat masyarakat tidak sekadar tinggal, tetapi merasa memiliki. Manusia akan menjaga sesuatu yang dicintainya, bukan sesuatu yang sekadar ditempati.
Perayaan lima abad Jakarta seharusnya tidak berhenti pada pesta kembang api, festival budaya, atau seremoni kenegaraan. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk mengubah cara kita memandang kota: dari kota sebagai kumpulan beton menjadi kota sebagai ekosistem kehidupan; dari mengejar pembangunan menjadi membangun peradaban; dari mengejar kecerdasan buatan menjadi memperkuat kecerdasan manusia. Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak gedung yang berhasil kita bangun. Sejarah akan mengingat apakah Jakarta berhasil melahirkan manusia yang lebih berempati, lebih berdaya, lebih beradab, dan lebih mampu hidup bersama dalam keberagaman. Jika itu berhasil dilakukan, maka ulang tahun ke-500 Jakarta bukan sekadar peringatan usia sebuah kota, melainkan perayaan yang akan dikenang sebagai titik lahirnya sebuah peradaban urban baru peradaban yang membuktikan bahwa kota masa depan tidak hanya harus cerdas, tetapi juga adil, tangguh, berkelanjutan, dan tetap manusiawi.
Artikel Terkait
Jeremy Doku Tinggalkan Piala Dunia 2026 demi Kelahiran Anak, L'Equipe Minta Maaf
Wakil Ketua DPR Pastikan Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa Tak Terulang
Dasco Sebut Ada Pihak Manfaatkan Isu Global untuk Buat Indonesia Tak Stabil
Gajah Tunggal Perketat Efisiensi dan Kembangkan SDM Hadapi Tekanan Ekonomi Global