Titiek Soeharto Tinjau Panen Udang Vaname di Nusakambangan, Napi Dapat Upah Rp25 Ribu Per Hari

- Minggu, 21 Juni 2026 | 00:45 WIB
Titiek Soeharto Tinjau Panen Udang Vaname di Nusakambangan, Napi Dapat Upah Rp25 Ribu Per Hari

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, yang akrab disapa Titiek Soeharto, menyaksikan langsung proses panen udang vaname di kawasan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dalam kunjungan itu, ia menyapa para narapidana yang tengah sibuk beraktivitas di area kolam budidaya.

“Yang mengerjakan ini warga binaan, ya, mas-mas ini. Biasanya kalau di dalam, sebelum ada program ketahanan pangan, ngapain saja?” tanya Titiek di lokasi Kawasan Bantar Panjang, Pulau Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026).

Seorang narapidana menjawab dengan lugas, “Nggak ngapa-ngapain.”

Titiek kemudian menggali lebih dalam soal manfaat program ketahanan pangan bagi para warga binaan. “Sekarang ada kayak gini, ada kesibukan, senang nggak?” tanyanya.

“Senang, Bu,” jawab narapidana tersebut.

Pertanyaan pun beralih pada soal premi yang diterima para narapidana dari program ini. Salah seorang warga binaan mengaku mendapat Rp25 ribu per hari. “Alhamdulillah, di samping sibuk, nanti dapat preminya, kan? Dapat persenan. Setiap apa didapatnya? Sehari Rp25 ribu, satu bulan Rp750 ribu, lumayan,” ujar Titiek menirukan jawaban sang narapidana.

Di sisi lain, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, yang turut hadir dalam kesempatan itu, menyampaikan bahwa pihaknya akan memberikan bonus jika hasil produksi meningkat. “Nanti kalau hasil produksinya lebih bagus, nanti akan ada bonus, Bu,” ucap Agus.

Secara keseluruhan, luas lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya udang vaname mencapai 20 hektare. Di lahan tersebut terbentang 20 kolam aktif yang menampung 11 juta benur. Sementara itu, di Kawasan Pasir Putih, lahan udang seluas 20 hektare dengan 14 kolam turut dikelola. Sejak awal 2025 hingga kini, Nusakambangan telah memanen 165 ton udang vaname pada siklus pertama.

Transformasi Nusakambangan sendiri merupakan gagasan yang dicanangkan Menteri Agus setelah dirinya dilantik oleh Presiden Prabowo. Pada masa transisi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dari Kementerian Hukum dan HAM ke Kemenimipas, Menteri Agus menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebutkan banyak aset milik kementerian berstatus lahan tidur atau idle.

Oleh karena itu, Menteri Agus berupaya menghidupkan kembali lahan-lahan tersebut dengan membangun balai latihan kerja (BLK). Tujuannya, agar para narapidana memiliki kegiatan pengembangan diri. Keterampilan yang diperoleh di BLK diharapkan menjadi bekal saat mereka bebas dari penjara, sehingga tidak kembali melakukan kejahatan.

Sejumlah prasarana pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi warga binaan telah berdiri di Nusakambangan. Di antaranya workshop batako dan paving block berbahan dasar fly ash bottom ash (FABA), BLK konveksi, BLK pengolahan pupuk organik, budidaya ikan sidat, serta pengolahan sampah. Budidaya ikan nila, lele, dan bawal, tambak udang vaname, peternakan sapi, domba, dan unggas, BLK pelintingan rokok, BLK produksi mocaf, hingga budidaya anggrek turut dikembangkan di kawasan ini.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar