Serangan Drone Ukraina Ganggu Pasokan Bahan Bakar di Belasan Wilayah Rusia, Krisis Meluas

- Jumat, 19 Juni 2026 | 18:30 WIB
Serangan Drone Ukraina Ganggu Pasokan Bahan Bakar di Belasan Wilayah Rusia, Krisis Meluas

Serangan drone Ukraina yang terus menyasar kilang minyak Rusia dalam beberapa bulan terakhir telah memicu gangguan pasokan bahan bakar di lebih dari sepuluh wilayah, menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya krisis yang sebelumnya hanya bersifat lokal. Situasi ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan para pengamat memperkirakan tekanan terhadap pasar bahan bakar akan semakin berat dalam beberapa bulan ke depan jika serangan berlanjut dan fasilitas yang rusak tidak segera pulih.

Gangguan paling parah terjadi di Semenanjung Krimea yang diduduki Rusia. Serangan drone terbaru berhasil mengacaukan lalu lintas di jalur “Novorossiya Highway”, jalur utama distribusi bahan bakar yang menghubungkan Krimea dengan wilayah Rostov. Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, menyebut situasi ini sebagai “lockdown logistik” yang memaksa otoritas setempat menerapkan pengawasan ketat. Bensin premium kini hanya bisa diperoleh dengan kupon jatah, sementara jaringan SPBU besar telah menghentikan penjualan untuk pelanggan umum selama beberapa pekan. Untuk bensin biasa, setiap pembelian dibatasi maksimal 20 liter.

Di luar Krimea, gejala serupa mulai terlihat di berbagai penjuru Rusia. Di wilayah Krasnodar yang berbatasan langsung dengan Laut Hitam, sebanyak 15 SPBU menghentikan total penjualan bahan bakar beberapa hari lalu. Meskipun jumlah itu relatif kecil dibandingkan dengan sekitar seribu SPBU di wilayah tersebut, keluhan di media sosial terus meningkat. Banyak pengguna melaporkan bahwa bensin sering habis, bahkan di SPBU yang tidak mengumumkan pembatasan. Fenomena ini dikaitkan dengan meningkatnya jumlah pengendara dari Krimea yang menyeberang ke Krasnodar untuk mengisi bahan bakar.

Gubernur Krasnodar, Veniamin Kondratyev, menggambarkan situasi ini sebagai lonjakan permintaan yang “tidak wajar” dan mengakuinya sebagai kondisi yang “sulit”. Sementara itu, laporan sporadis mengenai kekurangan bahan bakar juga muncul di wilayah Rusia bagian tengah seperti Kursk, Belgorod, Ryazan, dan Oryol. Bahkan Moskow dan sekitarnya sesekali mengalami keluhan serupa. Wilayah barat laut, termasuk St. Petersburg, Leningrad, Pskov, Novgorod, Murmansk, dan Karelia, juga tidak luput dari masalah ini. Kekurangan bahkan dilaporkan terjadi di Siberia dan Timur Jauh Rusia.

Sebagian besar gangguan masih terjadi di SPBU kecil yang tidak terafiliasi dengan perusahaan minyak besar. Meskipun belum bisa disebut sebagai krisis penuh, keluhan terus bertambah seiring dengan kenaikan harga bensin yang stabil dalam beberapa pekan terakhir, mencapai sekitar 0,5 persen per minggu.

Rusia sebenarnya sudah terbiasa menghadapi hambatan pasokan bahan bakar tahunan, terutama saat musim panas ketika permintaan melonjak akibat sektor pertanian dan liburan. Pada periode yang sama, kilang-kilang biasanya menjalani perawatan rutin. Namun, pada 2024 dan 2025, faktor musiman ini diperparah oleh serangan drone Ukraina yang dimulai lebih awal dan dinilai lebih efektif. Akibatnya, gangguan pasokan melampaui pola normal tahunan. Tahun ini, krisis mulai muncul bahkan sebelum tekanan musiman mencapai puncaknya.

Menurut perhitungan Bloomberg, hanya dalam bulan Mei, delapan dari sepuluh kilang minyak terbesar Rusia menjadi sasaran serangan drone. Beberapa fasilitas, termasuk kilang Lukoil di Nizhny Novgorod dan Perm, bahkan diserang berulang kali. Yaroslav Kabakov, direktur strategi di Finam, salah satu perusahaan investasi terbesar di Moskow, menjelaskan bahwa serangan kini tidak hanya menyasar unit pengolahan utama, tetapi juga fasilitas pemrosesan sekunder yang memproduksi bensin dan solar.

“Perbaikan fasilitas ini membutuhkan waktu berbulan-bulan dan semakin rumit karena sanksi yang membatasi pasokan peralatan,” ujarnya.

Data resmi produksi bahan bakar Rusia sebagian besar diklasifikasikan, namun data yang tersedia menunjukkan penurunan signifikan. Badan statistik Rusia, Rosstat, mencatat produksi produk minyak turun sembilan persen pada April dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Mei, penurunannya bahkan lebih tajam, dengan estimasi Bloomberg mencapai 13 persen secara tahunan. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), lembaga riset independen, menyebut kilang Rosneft di Tuapse sebagai yang paling terdampak. Antara Januari hingga Mei, ekspor produk minyak dari kilang tersebut turun 73 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kerugian ekspor diperkirakan mencapai 1,7 miliar euro atau sekitar dua miliar dolar AS.

Pelaku pasar mulai memperingatkan potensi kekurangan bahan bakar yang bersifat sistemik jika kilang-kilang terus berhenti beroperasi. Seorang sumber di pasar bahan bakar mengatakan kepada harian Kommersant bahwa saat ini kekurangan signifikan hanya terasa di Krimea. Di wilayah lain, cadangan masih ada tetapi pasokan tidak mencukupi. “Jika situasi tidak membaik, kekurangan akan meluas ke banyak wilayah pada akhir Juli atau awal Agustus,” ujarnya.

Pemerintah Rusia telah bergerak untuk mengantisipasi krisis yang lebih luas. Kementerian Energi membentuk “satuan tugas industri” sejak 8 Juni untuk memastikan stabilitas dan efisiensi sektor energi dan bahan bakar nasional. Sebelumnya, pemerintah memberlakukan larangan ekspor bensin, sebuah kebijakan yang sudah beberapa kali diterapkan. Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya juga diambil, yakni larangan ekspor kerosin. Di bursa komoditas St. Petersburg, pasokan bensin dari Belarus meningkat secara signifikan.

Harga bahan bakar diperkirakan akan naik seperti tahun lalu, tetapi tidak secara tajam karena harga eceran di Rusia dikendalikan ketat oleh negara. Beberapa SPBU independen dan jaringan kecil kemungkinan akan ditutup sementara untuk menghindari kerugian. Isaac Levi dari CREA menilai bahwa serangan drone Ukraina menimbulkan biaya besar bagi sektor minyak Rusia, mulai dari gangguan operasional, penurunan kapasitas kilang, hingga meningkatnya biaya perbaikan dan keamanan serta hambatan logistik.

Namun, ia menambahkan bahwa dampaknya terhadap negara Rusia secara keseluruhan masih terbatas. Minyak yang tidak dapat diolah di dalam negeri masih bisa diekspor. Selama perang di Timur Tengah terus mengganggu pasar global, kondisi ekspor Rusia masih relatif menguntungkan. Drone Ukraina juga menargetkan infrastruktur ekspor Rusia, tetapi sejauh ini belum berdampak signifikan. Menurut Bloomberg, ekspor minyak laut Rusia bahkan mencapai level tertinggi sejak perang dimulai pada awal Juni.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags