Wall Street Menguat Didorong Lonjakan Saham Semikonduktor dan Optimisme Kesepakatan AS-Iran

- Kamis, 18 Juni 2026 | 22:50 WIB
Wall Street Menguat Didorong Lonjakan Saham Semikonduktor dan Optimisme Kesepakatan AS-Iran

Wall Street memulai perdagangan dengan penguatan pada Kamis (18/6/2026) waktu setempat, didorong oleh lonjakan saham semikonduktor dan optimisme terhadap prospek kesepakatan damai di Timur Tengah yang mampu meredam kekhawatiran investor atas sikap hawkish Federal Reserve di bawah kepemimpinan ketua barunya, Kevin Warsh.

Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat naik 357,37 poin atau 0,70 persen ke level 51.853,59. Sementara itu, S&P 500 menguat 62,05 poin atau 0,84 persen menjadi 7.482,15, dan Nasdaq Composite melesat 225,57 poin atau 0,87 persen ke posisi 26.247,23.

Saham Intel menjadi salah satu pendorong utama setelah melonjak hampir 10 persen. Kabar tersebut menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengungkapkan bahwa Apple telah sepakat untuk bekerja sama dengan Intel dalam merancang dan memproduksi chip di dalam negeri. Momentum ini turut mendorong saham-saham semikonduktor lainnya. Nvidia naik 1,1 persen, sementara Micron Technology dan Marvell Technology masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 5 persen.

Indeks Philadelphia Semiconductor Index bahkan berhasil menembus rekor tertinggi baru, ditutup dengan kenaikan 4,6 persen. Di sisi lain, indeks teknologi S&P 500 juga mencatat penguatan sebesar 1,6 persen.

Optimisme pasar semakin terasa setelah Amerika Serikat dan Iran merilis teks kesepakatan sementara yang telah ditandatangani. Kesepakatan itu memperpanjang gencatan senjata April selama 60 hari ke depan guna memberi ruang bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan final.

“Penandatanganan kesepakatan AS–Iran ini tampaknya menggeser sentimen negatif akibat sikap The Fed yang lebih hawkish,” ujar Kepala Strategi Pasar di B Riley Wealth, Art Hogan, dalam pernyataannya.

Meski demikian, pasar masih mencermati kebijakan moneter. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kini mencapai 50 persen, meningkat signifikan dari 27 persen pada Rabu lalu.

Secara sektoral, delapan dari sebelas sektor utama dalam S&P 500 bergerak di zona hijau. Sektor industri memimpin dengan kenaikan 1,6 persen. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga ikut menguat 1,4 persen. Harga minyak yang turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan turut menjaga harapan bahwa inflasi dapat dikendalikan tanpa perlu kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Dari sisi data ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penurunan jumlah klaim tunjangan pengangguran pekan lalu, mengindikasikan bahwa tingkat pemutusan hubungan kerja masih tetap rendah. Hari Kamis juga menandai fenomena “triple witching”, yaitu berakhirnya kontrak derivatif saham, opsi indeks, dan kontrak berjangka secara bersamaan setiap kuartal. Peristiwa ini berpotensi meningkatkan volume perdagangan sekaligus memperbesar volatilitas pasar.

Namun, tidak semua saham mencatat kinerja positif. Saham Kroger ambles 6,4 persen setelah perusahaan melaporkan laba kuartal pertama di bawah ekspektasi dan mempertahankan proyeksi tahunan yang stagnan. Lebih parah lagi, saham Accenture anjlok hampir 16 persen setelah memangkas batas atas proyeksi pendapatan tahunan. Tekanan serupa dialami oleh Cognizant dan IBM yang masing-masing turun 8,2 persen dan 6,5 persen.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat masih mendominasi. Di NYSE maupun Nasdaq, rasio saham yang naik dibandingkan yang turun mencapai 2,48 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 21 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara 19 saham lainnya justru menyentuh titik terendah. Di Nasdaq Composite, tercatat 53 saham berada di posisi tertinggi baru dan 52 saham di posisi terendah baru.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar