Harga Minyak Dunia Berpeluang Menguat, Ketidakpastian Selat Hormuz Masih Membayangi

- Senin, 10 Agustus 2026 | 07:20 WIB
Harga Minyak Dunia Berpeluang Menguat, Ketidakpastian Selat Hormuz Masih Membayangi

Harga minyak dunia berpeluang melanjutkan penguatan di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global kembali mencuat setelah pembicaraan mengenai kesepakatan pelayaran belum membuahkan hasil yang dapat segera memulihkan arus pengiriman minyak.

Analis FXEmpire, James Hyerczyk, menilai reli harga minyak pada perdagangan Jumat (7/8/2026) mencerminkan perubahan sentimen pasar. Sebelumnya, pasar terlalu cepat memperhitungkan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman, sehingga harga minyak tertekan tajam pada awal pekan. Namun, rancangan persyaratan yang muncul kemudian menunjukkan masih terdapat perbedaan besar di antara pihak-pihak yang terlibat.

Kontrak Brent untuk pengiriman Oktober ditutup naik 1,3 persen menjadi USD83,55 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk September menguat 1,15 persen menjadi USD78,18 per barel. Meski demikian, secara mingguan Brent masih mencatat penurunan lebih dari 8 persen, dan WTI melemah lebih dari 7 persen.

Perbedaan mendasar terletak pada besaran pungutan dan kendali atas rute pelayaran. Iran menginginkan kendali penuh atas rute tersebut, pungutan sebesar 5-7 persen dari nilai kargo, serta kewenangan untuk membatasi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat maupun Israel. Sementara itu, Oman mengusulkan pungutan sekitar 3 persen, dan Washington menginginkan tidak ada biaya transit sama sekali.

Kondisi ini berpotensi membuat premi risiko minyak bertahan lebih lama. Selama ini, kilang-kilang menutup kekurangan pasokan akibat gangguan di Hormuz dengan menarik persediaan dan mengalihkan kargo. Namun, strategi tersebut berisiko semakin sulit dipertahankan apabila lalu lintas kapal melalui selat tersebut belum kembali normal.

Proyeksi Harga dari Bank Investasi

Dari sisi proyeksi, Citigroup menaikkan perkiraan harga Brent untuk kuartal III menjadi USD80 per barel dari sebelumnya USD75 per barel. Alasannya, negosiasi berjalan lebih lambat dan gangguan pasokan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Goldman Sachs juga memperkirakan Brent akan berada dalam kisaran USD80-90 per barel hingga ada kesepakatan Amerika Serikat-Iran yang terkonfirmasi atau terjadi eskalasi konflik.

Secara teknikal, Brent menunjukkan sinyal pemulihan setelah ditutup menguat untuk sesi ketiga berturut-turut. Harga berhasil kembali menembus moving average 50 hari (MA-50) di USD82,26 per barel. Hyerczyk menilai level tersebut menjadi indikator penting bagi arah harga selanjutnya. Jika Brent mampu bertahan di atas MA-50, harga berpeluang bergerak menuju area USD84,90-88,25 per barel. Namun, terdapat resistance pada USD86,33 dan USD91,36 sebelum harga berpotensi menguji level yang lebih tinggi.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat membuka ruang bagi Brent untuk kembali menguji USD78,11 per barel. Jika tekanan jual berlanjut, level USD75,56 yang merupakan moving average 200 hari (MA-200) menjadi perhatian berikutnya.

Sementara itu, WTI berada di sekitar USD78,18 per barel dan mulai mendekati MA-50 di USD79,03. Penembusan berkelanjutan di atas level tersebut akan memperkuat sinyal bullish, dengan resistance awal di USD80,31 dan USD81,21. Jika mampu melewati USD81,21, WTI berpotensi bergerak menuju USD84,54 per barel. Sebaliknya, kegagalan menembus MA-50 dapat kembali menekan harga menuju USD77,20 hingga USD75,39 per barel.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags