Di tengah gejolak harga nikel global yang terus menekan, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel memilih untuk tidak sekadar bertahan, melainkan memperkuat fondasi bisnis dari dalam. Perusahaan tambang dan pengolahan nikel ini menegaskan komitmennya untuk menjaga profitabilitas dan ketahanan usaha melalui efisiensi operasional serta keberlanjutan jangka panjang.
Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali, mengungkapkan bahwa industri nikel global saat ini tengah berada dalam fase yang sangat dinamis dan penuh tantangan. Menghadapi kondisi tersebut, perseroan memilih untuk memusatkan perhatian pada pengelolaan operasional yang efisien, terukur, dan bertanggung jawab.
"Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan, fokus kami adalah tetap menjaga operasional tetap berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab," ujar Lukito dalam keterangan resminya, Jumat (29/5/2026).
Sepanjang tahun 2025, Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp29,63 triliun. Memasuki kuartal I-2026, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp6,81 triliun. Dari sisi operasional, seluruh lini produksi disebut berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Kegiatan usaha perseroan mencakup rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari penambangan bijih nikel, pengolahan pirometalurgi melalui jalur Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), hingga pengolahan hidrometalurgi melalui jalur High Pressure Acid Leach (HPAL). Dua jalur pengolahan terakhir masing-masing menghasilkan produk antara berupa mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat.
Sementara itu, dalam upaya memperkuat efisiensi, perseroan melanjutkan berbagai inisiatif penghematan energi dan transisi ke energi terbarukan secara bertahap. Langkah strategis tersebut meliputi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp, pembangkit listrik yang memanfaatkan panas buang dari fasilitas HPAL sebesar 50 MWp, serta pengembangan Energy Management System yang selaras dengan standar ISO 50001.
"Perseroan mengelola produktivitas dan efektivitas operasional secara lebih baik, dengan tetap memperhatikan tata kelola serta keberlanjutan usaha jangka panjang," tutur dia.
Di sisi keberlanjutan, perusahaan mencatatkan pencapaian signifikan. Pada kuartal I-2026, Harita Nickel berhasil menghindari emisi karbon sebesar 977.278 ton CO2e, atau meningkat 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini didukung oleh pemanfaatan kembali panas buang, penggunaan biosolar, dan penerapan teknologi gasifikasi batu bara.
"Integrasi dari penambangan hingga pengolahan memungkinkan perseroan menjaga produktivitas, meningkatkan efektivitas operasional, serta memperkuat ketahanan usaha dalam menghadapi perkembangan industri ke depan," kata Lukito.
Artikel Terkait
Baznas Salurkan Daging Dam Haji ke Warga Kurang Mampu di Pemalang
Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen
Israel Tutup Paksa Masjid Ibrahimi di Hebron Tanpa Batas Waktu, Palestina Kecam Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Satgas Desak Kementerian Percepat Administrasi dan Revisi Anggaran demi Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera