Geliat Merger dan Akuisisi Global Tembus Rp75 Ribu Triliun
Transaksi merger dan akuisisi di seluruh dunia benar-benar meledak tahun ini. Nilainya mencapai angka fantastis: USD4,5 triliun, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp75 ribu triliun. Cukup gila, bukan?
Angka itu, berdasarkan data Bloomberg yang dirilis Selasa lalu, melonjak hampir 40 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Bahkan, ini disebut-sebut sebagai rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah. Aktivitas korporasi global tampaknya sedang tidak main-main.
Lalu, apa yang mendorong semua ini? Ben Wallace, seorang analis di Goldman Sachs Group Inc, punya pandangannya. Ia menangkap sebuah sentimen khusus di kalangan eksekutif.
“Ada perasaan di ruang rapat dan di antara para CEO bahwa ada jendela peluang dalam beberapa tahun ke depan untuk bermimpi besar,” ujar Wallace.
“Kita baru di awal siklus penurunan suku bunga. Jadi, wajar jika ada antisipasi bahwa likuiditas akan lebih banyak lagi ke depannya," tambahnya.
Di sisi lain, faktor psikologis dan ‘ikut-ikutan’ juga berperan. Maggie Flores, Mitra di firma hukum ternama Kirkland & Ellis, menggambarkannya dengan gamblang.
“Bayangkan, Anda melihat kompetitor atau rekan sejawat melakukan kesepakatan besar, memanfaatkan momentum. Anda pasti tidak mau ketinggalan, kan?” katanya.
“Lingkungan regulasi saat ini juga sangat mendukung. Orang-orang cuma memanfaatkan situasi yang kondusif itu," jelas Flores.
Beberapa transaksi raksasa memang mewarnai tahun 2025. Netflix membeli Warner Bros, misalnya. Lalu ada akuisisi operator kereta api Norfolk Southern Corp oleh Union Pacific Corp, serta pengambilalihan Teck Resources Ltd oleh Anglo American Plc.
Namun begitu, demam kecerdasan buatan atau AI rupanya jadi penyumbang utama beberapa deal yang mencuri perhatian. OpenAI, yang dikelola Sam Altman, berhasil menarik investasi besar dari raksasa seperti SoftBank, Nvidia, hingga Walt Disney. Tidak ketinggalan, sebuah konsorsium pimpinan BlackRock Inc setuju membayar USD40 miliar untuk Altered Data Centers.
Alphabet Inc, induk perusahaan Google, juga tak mau kalah. Maret lalu mereka mengumumkan rencana akuisisi startup keamanan siber Wiz Inc dengan harga USD32 miliar. Alasannya? Untuk memperkuat perlindungan pelanggan di era yang semakin dipenuhi AI.
Semua data dan komentar ini menunjukkan satu hal: peta bisnis global sedang diacak ulang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan sepertinya, pesta ini belum akan berhenti dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun