Dampak kebijakan tarif Amerika Serikat ternyata lebih keras dari yang diduga. Kali ini, Jerman yang merasakan pukulannya. Lembaga riset terkemuka di sana baru saja merilis proyeksi yang suram: pertumbuhan ekonomi pada 2025 diprediksi hanya menyentuh 0,1 persen.
Angka itu datang dari Prakiraan Ekonomi Musim Dingin 2025 ifo dan Institut Kiel. Inti masalahnya jelas: ekspor ke AS anjlok tajam pasca kenaikan tarif. Secara keseluruhan, ekspor Jerman diperkirakan turun 0,2 persen tahun depan. Tapi penurunan ke pasar AS-lah yang paling parah.
Di sisi lain, kondisi dalam negeri juga tak kalah rumit. Ekonomi Jerman sedang berada di tengah transformasi struktural yang luas. Awalnya, ada secercah harapan. Paket fiskal pemerintah yang isinya dana infrastruktur dan kenaikan besar anggaran pertahanan sempat mendongkrak sentimen bisnis.
Namun begitu, kepercayaan itu memudar lagi mendekati akhir tahun. Stimulus yang dijanjikan ternyata belum juga terwujud di lapangan.
Lembaga-lembaga riset ini sudah berkali-kali memangkas proyeksi mereka, menanggapi langkah-langkah AS. Tekanan pada sektor ekspor terlihat nyata. Produk domestik bruto triwulanan menyusut 0,2 persen di kuartal kedua, setelah di awal tahun tumbuh 0,3 persen. Kuartal ketiga pun stagnan, tak bergerak.
"Bahkan hingga akhir tahun, tidak ada tanda-tanda pemulihan yang signifikan,"
demikian catatan keras dari Institut Penelitian Ekonomi Leibniz.
Memang, ada sedikit harapan di kejauhan. Ekonomi diperkirakan sedikit membaik pada 2026 dengan pertumbuhan 0,8 persen, lalu 1,1 persen di 2027. Tapi untuk saat ini, langkah Jerman terasa berat. Antara tarif AS yang membebani dan transformasi dalam negeri yang belum tuntas, jalan menuju pemulihan masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun