Derasnya Hujan Tak Halangi Whoosh, Begini Cara Kereta Cepat Ini Jaga Keselamatan

- Minggu, 07 Desember 2025 | 00:25 WIB
Derasnya Hujan Tak Halangi Whoosh, Begini Cara Kereta Cepat Ini Jaga Keselamatan

Musim hujan datang, tapi operasional kereta cepat Whoosh tak boleh terganggu. Untuk itu, KCIC punya cara jitu. Mereka memasang dua belas sensor curah hujan yang membentang dari Halim hingga Karawang. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan tetap jadi prioritas nomor satu saat hujan mengguyur.

Menurut Eva Chairunisa, General Manager Corporate Secretary KCIC, sensor-sensor ini bekerja tanpa henti. Mereka mengukur debit hujan per jam dan mengirim datanya secara real-time ke pusat kendali operasi.

“Kalau sensor mencatat curah hujan mencapai nilai tertentu, alarm langsung bunyi. Sistem pun memberi instruksi pengamanan secepatnya,” jelas Eva, Sabtu lalu.

Begitu alarm berbunyi, protokol keselamatan langsung berjalan. Saat intensitas hujan menyentuh angka 25 mm per jam, petugas di pusat kendali akan meningkatkan kewaspadaan. Mereka memantau lintasan dengan lebih ketat. Namun begitu hujan makin deras dan mencapai sekitar 60 mm per jam, sistem otomatis bekerja. Kecepatan kereta dibatasi hingga 120 km/jam.

Nah, kalau hujan benar-benar lebat dan debitnya tembus 80 mm per jam? Pembatasan jadi lebih ketat lagi. Whoosh akan melaju pelan, maksimal 45 km/jam. Semua ini demi antisipasi, mengingat hujan deras bisa mengurangi jarak pandang masinis atau bahkan membawa material asing ke rel.

Mekanisme kerjanya cukup cerdas. Semua data sensor terhubung ke sistem Centralized Traffic Control (CTC). Jadi, begitu satu sensor mengeluarkan alarm, pembatasan kecepatan langsung berlaku di sektor antara sensor itu dan sensor terdekat berikutnya, di kedua arah jalur. Ini memastikan respons yang cepat dan tepat lokasi.

“Dengan instruksi dari sistem, masinis akan menurunkan kecepatan. Tapi kalau batas itu terlampaui, sistem Automatic Train Protection (ATP) akan aktif dan menghentikan kereta secara otomatis. Semua untuk keselamatan,” tambah Eva.

Lalu, kapan kecepatan bisa kembali normal? Tidak serta merta. Hujan harus reda dulu, dan debitnya turun ke sekitar 20 mm per jam atau lebih rendah untuk beberapa waktu. Itu pun belum cukup. Petugas prasarana wajib turun ke lapangan, memeriksa kondisi lintasan secara langsung. Setelah dipastikan aman, dan sistem mengeluarkan notifikasi 'clear', barulah kecepatan bisa dinaikkan bertahap.

Pada intinya, seluruh rangkaian teknologi ini sensor, alarm, CTC, dan ATP bekerja sebagai satu tim. Mereka saling melengkapi untuk mengawasi setiap perubahan cuaca.

“Kerja sama seluruh perangkat ini yang membuat Whoosh bisa tetap beroperasi dengan aman dan terkendali, meski cuaca di luar sedang tidak bersahabat,” pungkas Eva.

Jadi, meski langit kelabu dan hujan turun, perjalanan dengan Whoosh diharapkan tetap lancar dan, yang paling penting, selamat sampai tujuan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler