Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, nama Mohammad Hatta kembali mengemuka sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan. Bersama Soekarno, ia membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 dan kemudian menjabat sebagai wakil presiden pertama. Namun, di balik peran besarnya itu, Hatta dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, cerdas, dan konsisten memperjuangkan ekonomi kerakyatan.
Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dengan nama Mohammad Athar, Hatta tumbuh menjadi sosok yang disiplin dan dekat dengan dunia pendidikan. Sejak muda, ia aktif di organisasi kepemudaan, seperti Jong Sumatranen Bond. Ketika menempuh studi di Belanda, ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, organisasi perjuangan yang kemudian membawanya ke pentas politik internasional.
Karier organisasinya menanjak cepat. Pada 1922, ia dipercaya menjadi bendahara, lalu tiga tahun kemudian terpilih sebagai ketua. Di bawah kepemimpinannya, Perhimpunan Indonesia gencar menyuarakan kemerdekaan Indonesia di forum-forum dunia. Aktivitasnya itu membuat pemerintah kolonial Belanda menangkapnya, tetapi ia bebas setelah menyampaikan pidato pembelaan yang terkenal, Indonesia Free.
Setelah kembali ke tanah air, Hatta bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia untuk menggugah kesadaran politik rakyat. Pergerakannya kembali berujung pada penangkapan dan pengasingan ke Boven Digul, Papua. Di tempat pembuangan itu, ia tidak berhenti belajar dan mengajar. Pada 1935, ia dipindahkan ke Banda Neira bersama Sutan Sjahrir, sebelum akhirnya kembali ke Jawa pada 1942.
Menuju Kemerdekaan
Menjelang proklamasi, Hatta duduk sebagai wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Bersama Soekarno, ia membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Keesokan harinya, 18 Agustus 1945, Soekarno ditetapkan sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden pertama RI.
Peran Bung Hatta tidak berhenti di situ. Ia terus berkontribusi bagi bangsa, terutama dalam pengembangan koperasi yang menjadi salah satu pilar ekonomi kerakyatan. Hingga kini, keteladanan dan pemikirannya tetap relevan, menjadikannya tokoh yang tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Artikel Terkait
Menelusuri Sejarah PPKI, Lembaga yang Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia
Kisah Proklamasi 17 Agustus 1945: Momen Bersejarah Kelahiran Bangsa Indonesia
Mengenang Tokoh di Balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tonton Film Perjuangan Saat Libur 17 Agustus, Ini Rekomendasi dari Pembaca