Joyce Beatricia: Kisah Inspiratif Calon Bintang Timnas Putri Indonesia dari Solo

- Sabtu, 01 November 2025 | 16:10 WIB
Joyce Beatricia: Kisah Inspiratif Calon Bintang Timnas Putri Indonesia dari Solo
Joyce Beatricia: Kisah Perjuangan Calon Bintang Timnas Putri Indonesia dari Solo

Joyce Beatricia, Calon Bintang Timnas Putri dari Solo yang Tak Kenal Lelah Berlatih

Joyce Beatricia Adana Putri Bintang, seorang siswi kelas V SDN Cemara 2 Solo yang berusia 10 tahun, semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi pesepak bola profesional. Impian terbesarnya adalah suatu hari nanti dapat mengenakan jersey Merah Putih dan membela Timnas Putri Indonesia di kancah internasional.

Turnamen Milklife Soccer Jadi Pemicu Semangat

Kecintaan Joyce pada dunia sepak bola semakin berkobar setelah ia mengikuti kompetisi Milklife Soccer di Solo, Jawa Tengah. Turnamen ini menjadi momen penting yang mempertegas keyakinannya untuk menekuni jalur sepak bola secara serius.

Joyce membagikan rutinitas latihannya yang padat dengan penuh semangat. "Saya latihan terus, menjaga pola makan, dan tidak minum es. Setiap hari pulang sekolah langsung latihan sore. Jadwalnya Senin dengan Allstar Solo, Selasa sampai Sabtu dengan SSB, Rabu dan Jumat privat fisik, dan Minggu untuk pertandingan," ujarnya saat ditemui dalam ajang Milklife Soccer 2025 Series Solo.

Idola dan Impian Besar di JIS

Joyce mengaku memiliki dua idola besar yang menjadi sumber inspirasinya: Lionel Messi dan Claudia Scheunemann. Figur inilah yang mendorongnya untuk terus berlatih keras dan pantang menyerah.

Perjalanan kariernya terus menanjak. Dari yang awalnya hanya bermain di lingkungan sekolah, kini ia sudah merasakan atmosfer bertanding di Jakarta International Stadium (JIS). Keseriusannya dalam berlatih setiap hari adalah bukti nyata komitmennya mengejar cita-cita.

"Impian saya ingin menjadi pemain Timnas Putri Indonesia," tegas Joyce dengan penuh keyakinan.

Dukungan Keluarga yang Awalnya Berliku

Astrid Florensia, ibu Joyce, adalah sosok pertama yang percaya pada bakat anaknya. Ia bercerita bahwa awalnya sang suami kurang setuju dengan pilihan Joyce untuk bermain sepak bola.

Perubahan sikap sang ayah terjadi setelah Joyce tampil memukau di Milklife Soccer seri pertama dan berhasil membawa timnya meraih posisi juara tiga. Sejak momen itulah, dukungan dari keluarga pun mengalir deras.

"Saya memang mendukung Joyce dari awal. Awalnya suami saya tidak setuju dengan alasan 'cewek main bola ngapain'. Namun, setelah melihat Joyce latihan dengan serius, hati suami saya pun luluh," kenang Astrid.

Wadah Pencarian Bakat Muda Berbakat

Head Scouting Talent Milklife Soccer Allstar Solo, Coach Maya, menegaskan bahwa ajang ini merupakan wadah penting untuk menemukan bibit-bibit muda potensial. Ia bahkan mendapat arahan khusus dari pelatih Timo Scheunemann untuk melakukan seleksi secara ketat.

"Arahan dari Coach Timo jelas, kualitas pemain harus lebih baik dari series 1 dan 2. Jika ada anak yang menonjol, kami catat. Saat ini sudah ada 15 pemain yang kami pantau untuk kelompok usia KU-10 dan KU-12," jelas Coach Maya.

Coach Maya menambahkan bahwa target utama timnya adalah kembali menembus babak final sekaligus mengasah kemampuan anak-anak agar tampil percaya diri di lapangan hijau.

"Kami ingin masuk final lagi, selebihnya biar anak-anak menari dengan indah di atas lapangan," pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler