Dari Berburu Babi Hingga Kejurnas Panahan, Kisah Jekius Iba yang Menembus Target

- Jumat, 24 Juli 2026 | 10:54 WIB
Dari Berburu Babi Hingga Kejurnas Panahan, Kisah Jekius Iba yang Menembus Target

Berburu babi, rusa, atau kuskus di hutan Papua bukan sekadar tradisi bagi Jekius Iba. Kebiasaan itu justru menjadi fondasi bagi kariernya sebagai atlet panahan. Kini, remaja 17 tahun asal Kampung Iba, Distrik Testega, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, itu berlaga di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.

Jekius akrab disapa Jeki turun di divisi compound U-18. Ia telah berlatih panahan sejak usia 10 tahun. Dalam persiapan menuju kejuaraan ini, ia tinggal di mess bersama rekan-rekannya di Manokwari.

Lahir dan besar di tanah Papua membuat Jeki akrab dengan aktivitas berburu. Ia kerap berburu babi pada malam hari atau saat fajar. Hasil buruan, seperti babi, biasanya dibagi bersama teman-teman atau dibawa pulang untuk keluarga. Jika mendapatkan rusa, dagingnya dijual untuk membeli seragam sekolah dan sisanya ditabung.

"Seringnya berburu babi di kampung. Kadang juga berburu kuskus dan rusa bersama teman-teman," katanya kepada kumparan, Kamis (23/7). "Bisa berburu karena sudah turun temurun dari keluarga," sambungnya.

Kebiasaan berburu itu secara tidak langsung membentuk insting Jeki dalam memanah. Namun, ia mengakui ada perbedaan antara berburu dan bertanding. "Lebih susah berburu karena hewannya bergerak. Kalau panahan targetnya tidak bergerak," jelasnya.

Sejak menekuni panahan pada usia 10 tahun, Jeki telah mengoleksi sejumlah prestasi: Juara 2 Eliminasi Compound U18 WSS 2026 di Yogyakarta, Juara 3 Kualifikasi Compound U18 WSS 2026 di Yogyakarta, dan Juara 3 Compound U18 Mix Team WSS 2026 di Yogyakarta. "Harapan saya bisa jadi juara di ajang internasional," imbuhnya.

Bakat yang Ditemukan

Manajer Tim Papua Barat, Arya Kurniatmaja, menemukan Jeki melalui program Sentra Pemusatan Olahraga Pelajar Nasional (SPOBNAS) pada 2025. Ia menilai Jeki sebagai sosok disiplin, rendah hati, dan introvert. "Dia baru kenal panahan modern sekitar lima bulan. Terbilang singkat namun dia mau belajar dan menguasai teknik panahan dengan cepat," ujarnya.

Arya percaya latar belakang Jeki yang kerap berburu telah mengasah intuisinya. "Secara intuisi dia sudah dapat. Dia juga cepat belajar," imbuhnya.

Pelatih Kepala Kontingen Papua Barat, Unggul Broto Warastro, juga melihat keunikan Jeki. "Saat bertanding kemarin sempat ada trouble di alat. Tetapi dia masih bisa tenang. Kebiasaan berburu memang membentuk intuisinya untuk melepas busur panah," pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags