Tidur di Lantai Kapal, Kontingen Panahan Papua Tengah Tempuh Laut Seminggu demi Kejurnas Junior

- Rabu, 22 Juli 2026 | 21:06 WIB
Tidur di Lantai Kapal, Kontingen Panahan Papua Tengah Tempuh Laut Seminggu demi Kejurnas Junior

Semangat juang tinggi ditunjukkan kontingen panahan Papua Tengah yang rela tidur di lantai kapal beralas tikar selama hampir sepekan demi berlaga di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dari 22 atlet yang tergabung, 13 di antaranya memilih perjalanan laut karena keterbatasan biaya, sementara sisanya berangkat menggunakan pesawat.

Pelatih Kontingen Papua Tengah, Rizal Hakim, menceritakan perjalanan panjang yang dimulai dari Kabupaten Nabire pada 9 Juli 2026. Mereka menumpang kapal dari Nabire menuju Wasior, Manokwari, Sorong, Makassar, dan Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Kudus. Total waktu tempuh mencapai satu minggu, dan mereka tiba pada 15 Juli 2026.

"Kami berangkat naik kapal dari Nabire. Di kapal selama lima hari. Kemudian lanjut dari Surabaya ke Kudus menggunakan jalur darat. Total perjalanan dari Nabire ke Kudus satu minggu," kata Rizal kepada kumparan, Rabu (22/7).

Rizal mengungkapkan, anak asuhnya nekat menempuh perjalanan berat itu karena ingin tampil di kejuaraan nasional untuk pertama kalinya. "Modal kami semangat untuk berlaga di Kejurnas. Tekad dan semangat anak-anak luar biasa," sambungnya.

Di atas kapal yang penuh sesak, mereka tak mendapat tempat duduk atau kasur. Para atlet tidur di lantai beralaskan tikar seadanya. Cuaca buruk juga menjadi tantangan; beberapa atlet jatuh sakit akibat flu. Meski demikian, mereka tetap berlatih menarik busur di kapal untuk menjaga kelenturan otot.

"Kami naik kapal bayar tiket kebagian jatah no seat karena saat itu kondisi kapal sudah penuh. Jadi, anak-anak tidur di lantai memakai tikar seadanya," terang Rizal.

Biaya perjalanan ditanggung sendiri oleh orang tua. Untuk satu atlet, ongkos kapal pulang pergi mencapai Rp 2,5 juta, dan total biaya termasuk makan serta kebutuhan lain bisa mencapai Rp 10 juta. Awalnya, orang tua sempat ragu, tetapi akhirnya berangkat demi prestasi anak.

"Sewa rumah, akomodasi, konsumsi semua biaya sendiri," ucap Rizal.

Untuk menjaga semangat, Rizal menekankan bahwa para atlet adalah yang terbaik dan membawa nama Papua Tengah serta keluarga. Sesampainya di Kudus, beberapa atlet masih dalam kondisi kurang sehat, namun mereka langsung berlatih di lapangan SMA N 2 Bae, Kabupaten Kudus.

"Mereka antusias untuk tampil. Di ajang Kejurnas ini kami tidak memasang target tinggi. Minimal bisa delapan besar dan hal terpenting anak-anak bisa tampil happy," imbuhnya.

Pelatih lain, Zulkifli, menambahkan bahwa tidur di lantai kapal menjadi bagian dari pembentukan mental. "Tidak semua apa yang diinginkan harus terpenuhi. Misalnya tidak kebagian kamar ya tidur seadanya. Hal ini bagian dari membentuk mental. Saya melihat mental anak-anak sudah siap di Kejurnas ini," ucapnya. Ia pun tidak membebani atlet dengan target medali, melainkan mendorong mereka untuk tampil lepas dan mencari pengalaman.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags