Perdebatan Klasemen Memanas: Pelatih Borneo FC Kecewa Keras Aturan Head to Head, Thom Haye Beri Sindiran Tajam

- Selasa, 26 Mei 2026 | 12:30 WIB
Perdebatan Klasemen Memanas: Pelatih Borneo FC Kecewa Keras Aturan Head to Head, Thom Haye Beri Sindiran Tajam

Kekecewaan Pelatih Borneo FC, Fabio Lafundes, yang diungkapkan melalui media sosial pribadinya, telah memicu perdebatan sengit di kalangan pencinta sepak bola nasional. Pelatih asal Brasil itu menilai timnya layak menjadi juara Super League 2025/2026 jika melihat dominasi statistik sepanjang musim. Pernyataan tersebut langsung mendapat respons tajam dari gelandang Persib Bandung, Thom Haye, yang melontarkan sindiran di kolom komentar unggahan yang sama.

Fabio Lafundes mengaku kecewa karena gelar juara harus lepas dari genggaman akibat aturan head to head yang digunakan Liga Indonesia untuk menentukan posisi klasemen ketika dua tim memiliki jumlah poin yang sama. “Sayang sekali gelar juara karena aturan head to head, padahal jika bicara data statistik performa Borneo FC jauh unggul dari siapapun,” tulis Fabio dalam unggahannya. Komentar ini sontak memancing diskusi, sebagian suporter mengakui penampilan impresif Borneo FC dari segi produktivitas dan konsistensi permainan.

Di sisi lain, banyak pula yang membela regulasi tersebut dengan alasan bahwa aturan head to head telah menjadi bagian dari regulasi resmi kompetisi sejak awal musim dan berlaku sama untuk seluruh peserta. Hampir semua liga besar di dunia menerapkan sistem serupa untuk menjaga objektivitas penentuan juara. Perdebatan pun semakin memanas setelah Thom Haye turut angkat bicara. “Mungkin aturan itu ada untuk melindungi juara sejati dari hasil seperti pertandingan terakhir,” tulis gelandang berusia 31 tahun itu dalam kolom komentar yang langsung viral.

Kalimat tersebut dinilai banyak netizen sebagai sindiran terhadap potensi pertandingan yang kurang kompetitif pada pekan terakhir jika penentuan juara hanya menggunakan selisih gol. Komentar Thom Haye juga dianggap sebagai pembelaan terhadap sistem head to head yang selama ini dipakai Liga Indonesia. Sejak musim 2017, operator liga resmi menerapkan aturan tersebut agar setiap duel antarpesaing langsung memiliki nilai besar dalam perebutan gelar juara. Dengan sistem ini, hasil pertemuan langsung dianggap lebih penting dibanding jumlah selisih gol.

Penggunaan selisih gol dinilai rawan memunculkan pertandingan yang kurang kompetitif di akhir musim. Tim yang sudah tidak memiliki target berpotensi tampil tanpa tekanan, sehingga membuka peluang terciptanya skor besar yang bisa memengaruhi perburuan juara. Karena itu, operator liga mempertahankan aturan head to head demi menjaga persaingan tetap adil dan kompetitif hingga akhir musim.

Perdebatan soal aturan klasemen ini semakin panas karena berkaitan langsung dengan keberhasilan Persib Bandung meraih gelar juara Super League 2025/2026. Maung Bandung memastikan trofi usai bermain imbang tanpa gol melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (23/5). Hasil itu membuat Persib mengoleksi 79 poin, jumlah yang sama dengan Borneo FC Samarinda yang di laga lain menang besar atas Malut United FC. Meski poin kedua tim identik, Persib tetap berhak keluar sebagai juara karena unggul head to head atas Borneo FC. Situasi inilah yang kemudian memicu kembali perdebatan klasik soal aturan penentuan juara, meskipun secara resmi Persib Bandung tetap tercatat sebagai kampiun Super League 2025/2026.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar