Persebaya Gagal Manfaatkan Keunggulan Pemain, Imbang Pahit di Kandang Sendiri

- Senin, 02 Februari 2026 | 11:00 WIB
Persebaya Gagal Manfaatkan Keunggulan Pemain, Imbang Pahit di Kandang Sendiri
Hasil Pertandingan Persebaya vs Dewa United

SURABAYA Suasana di Stadion Gelora Bung Tomo awalnya begitu menggelegar. Persebaya unggul cepat, lalu bermain dengan kelebihan satu pemain hampir sepanjang pertandingan. Dukungan suporter pun tak henti-hentinya. Tapi, semua itu ternyata tak cukup. Peluit akhir justru menandai sebuah kekecewaan yang terasa pahit.

Imbang 1-1 melawan Dewa United. Hasil itu terasa seperti sebuah peluang emas yang menguap begitu saja. Bukan cuma soal gagal menang, tapi lebih karena situasi di lapangan sebenarnya sangat mendukung untuk membawa pulang kemenangan penuh.

Gol Cepat yang Tak Diikuti Momentum

Persebaya memulai laga dengan sempurna. Francisco Rivera sukses membobol gawang lawan di menit ke-22. Sorak-sorai penonton memenuhi stadion. Sayangnya, euforia itu cuma bertahan sebentar. Hanya tujuh menit berselang, Dewa United langsung membalas. Skor kembali seimbang.

Keadaan kemudian seolah berpihak sepenuhnya pada tim tuan rumah. Nick Kuipers, bek Dewa United, menerima kartu merah di akhir babak pertama. Persebaya punya waktu hampir satu babak penuh untuk mengeksploitasi keunggulan pemain. Ekspektasi pun melambung tinggi. Tapi, gol kedua tak kunjung datang.

Faktanya, sampai wasit meniup peluit panjang, angka di papan skor tak bergerak lagi.

Angka-Angka yang Bercerita Lain

Ini yang menarik. Meski jumlah pemain lebih banyak, statistik justru tak sepenuhnya membela Persebaya. Penguasaan bola malah lebih banyak dipegang Dewa United. Tim tamu itu terlihat lebih cerdas mengatur ritme, meski harus bertahan dengan sepuluh orang.

Memang, tembakan yang dilepaskan Persebaya lebih banyak. Tapi coba lihat lagi. Berapa banyak yang benar-benar membahayakan? Hanya sedikit. Serangan mereka terkesan datar, mudah ditebak, dan kurang tajam. Teknannya ada, tapi tanpa gigitan yang mematikan.

Di sisi lain, Dewa United tampil rapi. Mereka tak panik. Alur bola mereka terjaga, pertahanan solid, dan terlihat punya rencana yang jelas meski dalam kondisi tak ideal.

Kekecewaan Sang Pelatih

Bernardo Tavares, pelatih Persebaya, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Baginya, hasil ini sama saja dengan kehilangan dua poin berharga di kandang sendiri. Poin yang bisa sangat berarti dalam persaingan ketat di papan atas.

"Masalahnya bukan pada usaha. Semua pemain sudah bekerja keras. Tapi kita kurang cerdas hari ini. Bola bergerak terlalu lambat, memberi waktu lawan untuk bersiap. Terlalu banyak membawa bola, alih-alih mengalirkannya dengan cepat. Sepak bola modern menuntut keputusan yang cepat," ujarnya dengan nada kesal.

Komentarnya itu seperti sindiran halus. Ia seolah ingin mengatakan, keunggulan numerik tak ada artinya jika tak diimbangi dengan kecerdasan membaca permainan.

Lalu, Bagaimana Dampaknya?

Satu poin ini membuat Persebaya tetap berputar di posisi tengah klasemen. Jarak dengan puncak masih jauh, sementara persaingan untuk masuk zona aman makin sengit saja.

Akhirnya, laga ini jadi pelajaran berharga. Keunggulan situasi gol cepat, pemain lebih banyak, dukungan penuh tak otomatis jadi jaminan tiga poin. Bagi Persebaya, ini adalah alarm. Jika ingin bersaing di papan atas, mereka harus segera membenahi cara bermain. Butuh lebih dari sekadar semangat dan superioritas jumlah. Butuh kecerdasan, ketajaman, dan efektivitas yang konsisten.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler