SEMARANG Akhir kerjasama dengan Jafri Sastra bukan cuma soal ganti pelatih. Ini pengakuan. PSIS, sepertinya, benar-benar kehilangan arah. Tekanan degradasi dan performa yang terus merosot memaksa manajemen Laskar Mahesa Jenar bergerak. Kini, kabarnya, mereka sedang menyiapkan sosok Alfredo Vera untuk menata ulang segalanya.
Nama pelatih asal Argentina itu menguat sebagai calon direktur teknik. Posisi strategis itu sendiri sudah jadi isyarat: PSIS ingin ubah pendekatan. Bukan sekadar cari pelatih dadakan buat memadamkan api, tapi membangun fondasi dari nol lagi.
Dan situasinya memang darurat. PSIS sekarang nangkring di peringkat 9 Grup Timur Championship. Zona yang rawan, mengintai ancaman jatuh ke Liga 3. Alarm paling keras berbunyi setelah dua kekalahan telak di kandang sendiri: 0-3 dari Deltras FC dan Kendal Tornado.
Masalahnya bukan cuma kalah. Tapi cara kalahnya yang bikin geram. Pertahanan berantakan, koordinasi amburadul, kesalahan individu yang terus berulang. PSIS tampak seperti tim tanpa identitas. Kritik dari suporter pun mengalir deras, dengan duet Otavio Dutra dan Simanca jadi sasaran utama. Mereka dianggap gagal memberi rasa aman di jantung pertahanan.
Dalam kondisi begini, PSIS butuh lebih dari motivator. Mereka butuh seorang arsitek.
Nah, Alfredo Vera ini sosok yang paham betul soal kekacauan. Namanya bukan barang baru di sepak bola Indonesia. Ia datang membawa rekam jejak panjang, dibangun dari bawah sebagai pemain dulu. Dulu, ia dikenal sebagai bek tangguh yang pernah membela Persekabpas Pasuruan, PSAP Sigli, hingga PSS Sleman.
Pengalaman main di berbagai daerah itu memberinya satu kelebihan: pemahaman mendalam soal karakter sepak bola lokal. Yang keras, emosional, dan penuh tekanan di luar lapangan.
Karier kepelatihannya juga mencerminkan kemampuan adaptasi yang kuat. Dari Persela, Gresik United, sampai Borneo FC U-21. Puncaknya di Indonesia Soccer Championship A 2016, saat ia bawa Persipura Jayapura jadi juara. Itu bukti ia bisa menangani tim besar dengan tekanan tinggi.
Tak lama setelah itu, ia kembali sukses membawa Persebaya Surabaya promosi ke Liga 1 usai menjuarai Liga 2 2017.
Pola kariernya dalam sepuluh tahun terakhir menarik. Vera kerap muncul di klub-klub yang sedang krisis. Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, Persita Tangerang, hingga RANS Nusantara. Ia bahkan sempat merasai tantangan di Kelantan FA, Malaysia. Terakhir, ia menangani Madura United di awal 2025.
Polanya jelas: Vera ini spesialis tim bermasalah. Bukan pelatih untuk proyek jangka panjang yang penuh romantisme. Ia lebih seperti manajer krisis figur yang dipanggil saat fondasi goyah dan waktu hampir habis.
Dan itulah yang membuat namanya sangat relevan dengan kondisi PSIS sekarang.
Kalau rumor soal posisi direktur teknik ini benar, maka PSIS sedang kirim sinyal kuat. Masalah mereka sistemik, bukan cuma di bangku pelatih. Peran sebagai direktur teknik akan memberi ruang bagi Vera untuk bekerja lebih luas: menata filosofi bermain, mengevaluasi skuad, memperbaiki koordinasi antar lini. Latar belakangnya sebagai bek juga memberi harapan khusus untuk sektor yang paling bermasalah: pertahanan.
Suporter Semarang jelas berharap lebih. Mereka ingin PSIS kembali jadi tim yang disiplin dan solid. Tim yang sulit dikalahkan, bahkan saat kalah sekalipun.
Tapi semua masih dalam bayang-bayang rumor. Hingga detik ini, manajemen PSIS belum buka suara secara resmi. Kabar itu masih menggantung, jadi bahan obrolan suporter yang lelah dengan ketidakpastian.
Namun begitu, satu hal yang pasti: waktu tak banyak. Setiap laga di Championship adalah pertaruhan eksistensi. Mendatangkan Alfredo Vera, jika benar terjadi, bukan sekadar penunjukan baru. Itu taruhan besar untuk menyelamatkan martabat Laskar Mahesa Jenar.
Beranikah PSIS melangkah keluar dari zona rumor? Jawabannya segera akan terlihat di Semarang.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares