Suasana di Estádio da Luz, Kamis dini hari WIB, benar-benar muram untuk kubu Real Madrid. Mereka tumbang 2-4 dari Benfica dalam laga penentuan terakhir fase liga Liga Champions. Kekalahan itu bukan cuma sekadar angka, tapi memastikan Los Blancos terlempar dari posisi delapan besar. Mereka terpaksa harus melewati jalur playoff yang berliku.
Jude Bellingham, sang gelandang andalan, tampak hancur. Dia bermain penuh 90 menit, berusaha menggerakkan tim, tapi semua upaya itu pupus di menit-menit akhir. Yang paling menusuk adalah gol kemenangan Benfica di menit ke-98. Bukan dari striker, melainkan dari sundulan sang kiper, Anatoliy Trubin. Gol itu seperti mengubur harapan mereka untuk lolos langsung.
Usai pertandingan, Bellingham terlihat masih sulit menerima kenyataan. Ekspresinya bercampur antara lelah dan frustrasi.
“Jelas ini menyakitkan untuk kalah dengan cara seperti ini,” ujarnya, suaranya datar.
“Saya tidak punya banyak hal untuk dikatakan sekarang, saya belum yakin harus berpikir apa.”
Kata-katanya singkat, tapi cukup menggambarkan betapa pahitnya malam itu bagi seluruh skuad Madrid.
Namun begitu, di balik kekecewaannya, Bellingham menyoroti sesuatu yang lebih dalam dari sekadar taktik. Dia mengakui timnya punya segudang talenta individu yang mumpuni. Persoalannya, menurut dia, ada di sisi lain: mentalitas.
“Kami punya begitu banyak talenta, tapi kami butuh mentalitas yang sama, siapa pun lawannya,” tegas pemain Timnas Inggris itu.
Komentarnya itu seperti menyentil akar masalah yang selama ini menggerogoti performa Madrid musim ini. Performa mereka memang fluktuatif. Di fase liga Liga Champions saja, mereka sudah tiga kali kalah: dari Liverpool, Manchester City, dan yang terakhir Benfica. Kekalahan terakhir inilah yang paling fatal karena terjadi di saat-saat penentuan.
Padahal, sebenarnya mereka cuma butuh satu poin. Hasil imbang saja sudah cukup untuk menjaga asa finis di posisi aman. Tapi alih-alih bertahan, mereka malah kehilangan kendali. Situasi makin runyam setelah dua pemainnya, Raúl Asencio dan Rodrygo, diusir wasit di fase akhir laga. Dengan sepuluh pemain, pertahanan Madrid pun jebol oleh serangan-serangan gencar Benfica, yang puncaknya adalah gol Trubin yang dramatis itu.
Gol kiper itu sekaligus menjadi simbol betapa Madrid gagal menjaga fokus hingga peluit akhir berbunyi. Benfica pun melesat ke peringkat ke-24, sementara Madrid harus menelan pil pahit jalur playoff.
Jalan mereka belum berakhir, tentu saja. Fokus sekarang beralih ke babak playoff, di mana mereka berpotensi menghadapi Benfica lagi atau Bodo/Glimt. Semua tergantung undian Jumat nanti.
Bagi Bellingham, malam kelam di Lisbon ini mestinya jadi pengingat yang keras. Sebuah pelajaran berharga bahwa sekumpulan bintang sekalipun, tanpa konsistensi dan mental baja yang menyatu, akan kesulitan melangkah jauh di kompetisi sebesar Liga Champions.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares