Bagi Arteta, jeda itu bukan cuma untuk minum dan istirahat. Itu momen krusial untuk bernapas, merenung sejenak, dan mengambil keputusan tepat.
Dia juga tak pelit pujian, terutama untuk Gabriel yang bangkit dari kesalahan fatal.
Rice juga dapat pujian serupa. Dua golnya bukan kebetulan.
Dengan sembilan laga tersisa, jalan menuju gelar masih panjang. Tapi kemenangan seperti ini yang didapat lewat mental baja dan penyelesaian masalah saat jeda memperlihatkan karakter juara. Arteta tahu betul tuntutannya.
Artikel Terkait
Liam Rosenior Resmi Pimpin Chelsea dengan Kontrak Panjang Hingga 2032
Lewandowski Buka Suara: Perbedaan Mentalitas Bayern dan Barcelona yang Harus Dia Akrabi
Ketua FFI Tegaskan: Futsal Indonesia Tetap di Bawah Naungan PSSI
Megawati Hangestri Ingatkan JPE: Gelar Juara Bukan Jaminan