Bagi Arteta, jeda itu bukan cuma untuk minum dan istirahat. Itu momen krusial untuk bernapas, merenung sejenak, dan mengambil keputusan tepat.
Dia juga tak pelit pujian, terutama untuk Gabriel yang bangkit dari kesalahan fatal.
Rice juga dapat pujian serupa. Dua golnya bukan kebetulan.
Dengan sembilan laga tersisa, jalan menuju gelar masih panjang. Tapi kemenangan seperti ini yang didapat lewat mental baja dan penyelesaian masalah saat jeda memperlihatkan karakter juara. Arteta tahu betul tuntutannya.
Artikel Terkait
Legenda Ronaldo hingga Del Piero Adu Taktik di SUGBK April 2026
Heineken Gelar Kampanye Nobar Liga Champions, Janjikan Perjalanan ke Final di Budapest
Ekspresi Hancur Lamine Yamal Soroti Kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid
Timnas Futsal Indonesia Juara Grup B, Hadapi Vietnam di Semifinal Piala AFF 2026